News Update :

Local News

Borneo News

Global News

Malaysia is My Friend

Saya dan James Ricthie

LAGI-lagi Malaysia dituding “menyenggol” Indonesia! Beberapa hari belakangan beredar pesan berantai melalui Blackberry Massanger (BBM) yang memuat link URL di internet tentang sebuah video.

Dalam BBM itu disebutkan, link itu memuat video “Indonesia dikatain anjing oleh orang-orang Malaysia”. Masih disertai semacam ajakan: “jangan lupa sebarin ke teman-teman biar Malaysia dikecam balik oleh rakyat Indonesia”.

Saya tidak ikut melakukan broadcast atas BBM itu. Pun saya tidak mau repot-repot melakukan download atas file video di link tersebut.

Reaksi beberapa teman, mungkin juga sebagian pengguna sosial media lain, sangat beragam atas hal ini. Status facebook dan blackberry profile beberapa teman berisi kecaman, di antaranya “menyerang” balik dengan umpatan-umpatan.

Ibarat prokem yang populer awal tahun 2000-an, “gue sih asyik aje selama elo kaga nyenggol gue”. Atau, “loe jual, gue beli”.

Sekali lagi, saya memutuskan untuk tidak ikut-ikutan. Sejenak pikiran dan ingatan saya melayang pada peristiwa beberapa bulan silam, saat berkunjung ke satu kawasan perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Malaysia.

“Yang berhadapan langsung dengan Malaysia itu kami yang tinggal di sini, bukan orang Jakarta sana,” ucap seorang teman yang saya kunjungi di Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu.

Dari kampungnya itu, hanya perlu kurang dari 30 menit naik sepeda motor melalui jalan tanah untuk sampai ke kawasan Sarawak, Malaysia Timur. Dia menyayangkan syahwat perang orang Jakarta (untuk menyebut pihak-pihak yang jauh dari perbatasan) yang begitu besar untuk membangkitkan kembali spirit ganyang Malaysia.

“Saat orang Jakarta menyerukan perang dengan Malaysia, kami malah bekerja bersama di ladang, makan minum di rumah panjang,” tutur sahabat saya itu.

Maklum, teman saya itu, dari sub etnik Dayak Iban. Suku yang sama dengan sebagian warga negara Malaysia yang tinggal di kawasan Sarawak. Dulunya sebelum garis khayal negara membatasi kawasan itu, orang Iban di kawasan ini sudah lebih dulu hidup turun-temurun dalam komunitas dengan aktivitas yang sama dan tak terpisahkan.

Ketika warga Malaysia dari etnik Iban berladang, budaya gotong-royong yang diwariskan sejak zaman nenek moyang masih berlaku. Artinya, keluarga mereka dari kawasan Badau (yang notabene adalah wilayah Indonesia) dan sekitarnya yang juga orang Iban, membantu mereka mengerjakan ladang. Saling bantu dalam mengerjakan ladang adalah hal biasa di hampir sub etnik Dayak seantero Kalimantan!

Jadi, kerjasama atau gotong-royong mengerjakan ladang antara orang Iban di Malaysia dengan iban di Indonesa sulit dilihat sebagai kerjasama G to G, tentu saja, namun lebih pada hubungan antar komunitas homogen. Pusing, kan? Memang, salah satu tugas negara adalah membuat rakyatnya pusing, hehe.

“Kalau ada seruan perang, siapa yang harus kami bunuh? Keluarga-keluarga kami yang kebetulan berada di sebelah sana batas negara, yang terpisahkan oleh teritorial ini?” lagi sembur sahabat saya tadi.

Dia menyambung, “Hanya batas negara yang membuat kami terpisah. Jiwa kami tetap sama, sebagai orang-orang Iban dengan tradisi perladangan dan budaya yang sama.”

Ini sekaligus jawaban terhadap panasnya “ajakan perang” saat Malaysia dituduh mencaplok budaya Indonesia, ketika ada iklan made in Malaysia yang menampilkan tari-tarian Dayak. Bukankah tarian etnik Dayak yang mereka tampilkan dalam iklan tersebut, adalah juga milik warga mereka sendiri?

“Ndak bisa kita apa-apain itu. Kami ini masih satu rumpun, tarian mereka ya tarian kami juga,” komentar seorang tokoh Dayak Kayaan di Pontianak, Dr Aloysius Mering, yang waktu itu saya mintai pendapat.

Aloysius memang salah satu tokoh Dayak Kayaan, sub etnik Dayak yang selain hidup di kawasan Kalimantan Barat dan Timur, juga hidup di kawasan Sarawak. Hubungan kekerabatan dan kerjasama tetap terjalin hingga saat ini. Organisasi Dayak di Kalimantan Barat, kerap bekerja sama dengan organisasi Dayak di Sarawak.

Dari mengikuti aktivitas mereka (waktu itu sebagai wartawan yang melakukan peliputan), saya lantas berkenalan dengan seorang wartawan senior bernama James Ritchie. Usianya sekitar 60-an tahun. Pria berdarah campuran Skotlandia dan China ini mengaku tak setitikpun darah Dayak mengalir di urat nadinya. Tapi dia begitu fasih berbicara bahasa Iban, dan memahami berbagai ritual dan tradisinya.

Ketika dia berkunjung ke Kota Pontianak, kami selalu berusaha bertemu bersama rekan-rekan lain. Sekadar ngobrol dan bincang-bincang ringan. Suatu waktu, saya dan beberapa rekan sedang berada di Entikong, Kabupaten Sanggau. Entikong merupakan kawasan border yang sudah resmi sebagai pintu keluar masuk resmi kedua negara.

Saya mengirim short massage service (SMS) kepada James, menanyakan apakah mungkin makan siang bersama di negaranya. Keren! James punya waktu luang, dan kami tinggal “menyeberang” lewat border Entikong, menuju kota terdekat antara Entikong dengan Sarawak, yakni Tebedu, sebuah kota kecil yang rapi dan penuh dengan aktivitas perdagangan.

“Hebat, kita makan siang ke luar negeri. Hanya untuk makan siang!”

Kami makan lauk labi-labi (sejenis penyu) di sebuah restoran Thionghoa di Tebedu. Kami berbicara campuran bahasa Indonesia, Melayu, dan Inggris. Suasana akrab, bersaudara, dan hangat. Kami juga menyanyi bersama.

Nah, jika masih ada seruan dan ajakan perang melawan Malaysia, dalam benak saya segera terbayang wajah James, dan beberapa teman Malaysia saya lainnya. Tegakah saya, misalnya saat head to head, mengayunkan senjata ke arah mereka? Lalu kalau mau perang, siapa sebenarnya yang akan kita bunuh?

Atau seruan perang itu hanya retorika sebuah bangsa yang kebakaran jenggot mengalihkan suatu isu ke isu lainnya? Sudah benar-benar kurang kerjaankah kita mengurus bangsa ini, sampai hal-hal kecil harus berujung pada perang?

Sengaja saya tidak mau melakukan download atas file video yang disebutkan menghina Indonesia dengan perkataan “anjing”. Bisa saja itu buatan orang iseng yang hobi melakukan “pengeruhan suasana”. Atau bisa saja itu benar-benar buatan orang Malaysia, tepatnya oknum, yang tidak perlu ditanggapi. Perbuatan seorang atau sekelompok oknum, tak lantas harus digeneralisasi ke tataran negara.

Saya kira, masih sangat banyak hal-hal bermanfaat lainnya yang menanti untuk dibenahi, ketimbang meladeni efek-efek sosial media yang hobi dengan isu hoax.  Ibarat masturbasi, lebih banyak tenaga terbuang daripada kepuasan yang dirasakan. Siapa yang rugi? (SEVERIANUS ENDI)

Batas Negara; Ujung Sebuah Negeri


Jika boleh mengurut, ada tiga tempat yang menjadi favorit bagi orang ketika berkunjung ke tanah Borneo Barat. Tiga tempat itu berada pada kabupaten/kota yang berbeda juga. Satu, Pontianak. Kedua, Singkawang, dan ketiga itu Entikong.

Mengapa hanya tiga tempat itu? Pontianak, sebagai ibu kota provinsi, tentu saja menjadi lalu lintas yang utama. Tetamu yang berkunjung dari luar Pontianak akan singgah di kota ini. Walau hanya sejenak untuk sekadar meluruskan pinggang karena lelah berpergian.

Sebagai sebuah kota perdagangan dan jasa, Pontianak mau tidak mau harus siap menerima arus mobilitas massa yang frekwensinya terus meningkat. Karena itu, infrastruktur penunjang harus juga siap. Inilah yang menjadi tugas pemerintah. Apapun alasannya, infrastruktur penunjang sebagai sebuah kota perdagangan dan jasa haruslah sudah siap.

Jika berkunjung ke Pontianak. Sebagian orang akan melanjutkan perjalanannya. Ada dua tempat yang kerap menjadi tujuan: Singkawang dan Entikong. Singkawang yang disebut juga kota amoy, selalu menjadi tempat pelesiran yang menarik. Dari Pontianak, Singkawang bisa ditempuh menggunakan mobil atau sepeda motor. Waktu tempuh dari Pontianak sekitar tiga jam dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam.

Pada momen tertentu, kunjungan ke Singkawang meningkat signifikan. Di antaranya, saat perayaan Imlek, Cap Go Meh, sembahyang kubur, bahkan peringatan-peringatan hari besar lainnya. Namun tingkat kunjungan tertinggi biasanya terjadi saat warga Tionghoa merayakan hari-hari kebesarannya.

Lokasi kedua yang kerap dikunjungi jika seseorang sudah berada di Pontianak, yakni Entikong. Lho, kok bisa? Yah, Entikong boleh dicatat sebagai lokasi yang paling banyak dikunjungi orang. Bahkan, Badan Pusat Statistik menempatkan Entikong sebagai salah satu indikator mencatat jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Barat. Kendati faktualnya, tidak semua orang yang masuk dan keluar lewat Entikong dengan tujuan berwisata. Ada juga sebagian yang masuk untuk berbisnis.

Ada juga kebiasaan pejabat dari pusat negara yang berkunjung ke Kalbar. Begitu, tiba sekalian mengunjungi Entikong kemudian menyeberang ke Jiran. Namun kunjungan yang berkode resmi itu tidak juga bisa mengubah wajah batas negara. Padahal kedatangan temuai dari pusat negara menyerap aspirasi masyarakat perbatasan untuk sebuah kemajuan.

Ada pameo dalam masyarakat perbatasan: jika saja buku tamu dikumpulkan selama bertahun-tahun, maka isinya sudah tidak muat untuk tandatangan oleh tetamu itu. Bahkan, ada seloroh yang menyebutkan, “hanya malaikat saja yang belum datang ke perbatasan ini. Tetapi wajah perbatasan tetap saja seperti ini.” (Budi Miank)

Masih Rindu Kampung Halaman


HIDUP di belantara gedung-gedung bertingkat, bukanlah lagi hal yang aneh. Setidaknya jika yang dijadikan pembanding berupa kehidupan masyarakat pedalaman nun di masa lalu, pada masa-masa awal kemerdekaan, dengan masa kini yang merupakan buah era reformasi.

Sudah begitu banyak putra-putri pedalaman yang akhirnya bisa merasakan pendidikan sebagaimana layaknya masyarakat perkotaan. Dan cukup banyak pula dari mereka yang karena perjuangan dan usahanya, berhasil mengubah kehidupan dari orang kampung menjadi orang kota.

Tetapi saya berpikiran lain. Mengapa setiap saat selalu terasa rindu pada kampung halaman? Rindu pada kerimbunan hutan, kucuran air alam yang tak kunjung putus, tiupan angin segar, juga kicauan burung yang terbang lepas di sela-sela kanopi pepohonan.

Apakah gedung pencakar langit metropolitan sudah tidak menarik lagi? Sepatu mengkilap dan pakaian rapi? Bekerja di kantor, bertemu orang-orang modern, yang jauh dari kesan “kotor-becek” karena pekerjaan di hutan?

Saya sendiri pun sulit menjawabnya. Sebab, keinginan back to nature bukan perkara sepele. Akan banyak orang yang membelalakkan mata keheranan: mengapa setelah susah payah menempuh pendidikan di kota, mencoba bekerja di beberapa perusahaan modern, eeeh kok malah memilih pulang kampung?

Bukankah pulang kampung itu simbol kegagalan? Atau menyiratkan “kemunduran” alias anti kemapanan?

Ah terserahlah! Rupa-rupanya, tak terlalu baik juga jika terlalu memperdulikan gunjingan orang lain. Rinduku pada alam dan hutan di kampung, mungkin pengobat segala masalah ini.

Masalah sikut-menyikut di dunia perkotaan, persoalan intrik-intrik internal di kantor, atau sekadar emosi yang sering memuncak setiap saat. Pulang kampung, maka siaplah melarat, tanpa akses internet, tanpa meeting bisnis, tanpa derap modernisasi.

Jelang pertengahan Juli 2011 lalu, aku berkesempatan pulang kampung di pedalaman Kalimantan Barat. Lumayan, aku bisa sedikit mengobati kerinduan akan hutan, alam, halaman atau pekarangan belakang yang penuh pohon buah-buahan, juga suasana kehidupan di kampung.

Merasakan kembali ritme kehidupan yang unik. Belum tengah malam, suasana kampung sudah begitu sepi dan gelap. Bandingkan dengan derap kehidupan perkotaan yang seakan tidak pernah tidur.

Dan gelap di perkampungan membuat tidur menjadi nyenyak, beralas tikar pandan dan lantai papan. Segar dan sejuk yang mendamaikan. Dan pagi-pagi sekali, kokok ayam yang merdu terdengar di belakang rumah, membangunkan kami dari lelap.

Air sungai kecil di belakang rumah masih sangat jernih, masih cukup terpelihara dan belum  tercemar oleh aktivitas liar penambangan emas tanpa izin di daerah perhuluan. Bambu masih lebat dan di sela-selanya masih tumbuh subuh rebung sebagai bahan sayuran.

Juga pakis-pakis segar siap dipetik, dan jika beruntung, ikan-ikan sungai masih bisa tertangkap oleh pancing, pukat, atau bubu (perangkap ikan yang terbuat dari bambu). Tapi, memang semuanya sudah tidak alami lagi, karena kampungku sudah sebegitu tercemar oleh arus modernisasi.

Orang-orang serakah melakukan penambangan emas liar di perhuluan sungai besar, sehingga airnya kini menjadi keruh. Tak hanya keruh, tapi kuat dugaan cairan mercury atau air raksa limbah tambang ikut mencemari.

Sedikit bersyukur, karena sungai kecil di belakang rumah masih relatif terjaga dan jernih airnya. Dan sejumlah hutan kecil masih bisa kukunjungi, untuk menikmati kerindangan pepohonan yang sanggup membuat suasana siang terasa bagai sore, saking rindangnya kanopi.

Sebenarnya kampungku sudah tidak sepenuhnya tradisional lagi, namun ciri-ciri “pedalaman” masih senantiasa terasa. Ada kesan yang menyapa, ada kerinduan yang sedikit terobati. (Pujangga Endi)

Saatnya Orang Perbatasan Bicara Perbatasan


Kami, Borneo Blogger Community & Mata Enggang bekerjasama dengan Ford Foundation dan Cipta Media membuka kesempatan bagi anda bergabung bersama Program Beasiswa Blogger Perbatasan. Syaratnya:
1. Warga negara Republik Indonesia, berasal dari daerah perbatasan di Kalbar
2. Berusia minimal 17 tahun atau sudah pernah menikah
3. Tidak berstatus PNS
4. Dapat mengoperasikan komputer dan hand phone (lebih disukai yang memiliki komputer/laptop  sendiri dan memiliki ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis)

Bentuk & Jenis Beasiswa
-    Paket peningkatan kapasitas blogger perbatasan (Pelatihan jurnalime warga berupa pelatihan menulis, memotret, dan video; pelatihan membuat dan mengoperasikan blog, tweeter dan facebook)  gratis selama 5 bulan.
-    Paket fasilitas pendukung program (fasilitas modem dan pulsa internet gratis selama 5 bulan)
-    Pada akhir program, akan diberikan penghargaan berupa uang+piagam kepada 3 orang blogger perbatasan yang selama mengikuti program ini menghasilkan karya (tulisan, photo atau video) terbaik.
-    Seluruh karya-karya terbaik  dari peserta akan diterbitkan dalam bentuk buku (cetak) & ebook yang bisa diakses di internet.

Segera kirim biodata anda ke alamat email: borderblogger@mail.com, atau diantar langsung ke  Sekretariat Border Blogger Movement (BBM), Komp. Villa Ria Indah Blok G-11, Tanjung Hulu Pontianak Timur, Kalimantan Barat.

Kontak: 085386222521 (Bosio ) dan 08125725290 (Aris Munandar). Kami tunggu hingga 25 Januari 2012.

Penyu Enggan Mampir lagi di Sambas


MALAM sepi yang menyelimuti Pantai Tanjung Sungaibelacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), membuat kawasan itu seperti tidak berpenghuni.

Hanya Laut Natuna dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus menyusup di tengah remang cahaya bulan. Bertambah kencang hempasan, bertambah jelas pula sosok seekor penyu hijau yang merayap ke bibir pantai. Ia menyeret tubuh tambunnya dan terseok-terseok menuju pinggiran sejauh 50 meter dari pesisir.

Sampai di lokasi tujuan, satwa yang dilindungi ini mulai menggali pasir dan memulai ritual malamnya. Bertelur. Satu malam, ada sekitar 50 penyu betina mendarat di pantai tersebut. Setiap induk biasanya mengeluarkan 114 butir sekali bertelur. “Mei-Juli merupakan puncak musim penyu bertelur,” jelas staf pemantau habitat penyu WWF Indonesia Kalbar Dwi Suprapti, dua pekan lalu.

Selama periode tersebut, penyu-penyu itu mampu bertelur 7-8 kali dengan interval waktu setiap dua minggu sekali. Selanjutnya 3-5 tahun kemudian mereka akan kembali untuk melakukan siklus peneluran yang sama.

Dua jam berlalu, namun peneluran belum berakhir. Sejurus kemudian, beberapa personel WWF dan aparat keamanan dengan sigap menggali kembali sarang untuk memindahkan telur penyu ke lokasi yang aman.

Mereka harus bergerak cepat dan tepat karena berkejaran waktu dengan para pencuri telur yang mengintai dari kejauhan.

“Harapan hidup penyu di alam bebas sangat rendah, yakni satu berbanding 1.000 tetasan. Ancaman terbesarnya berasal dari hewan predator, faktor lingkungan, dan aktivitas perburuan oleh manusia,” kata Dwi.

Tanjung Sungaibelacan merupakan salah satu wilayah pantai di Kecamatan Paloh yang menjadi habitat alam penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricate) di Kalbar.
Pantai di sepanjang kecamatan itu landai dan berombak relatif tenang. Kondisi tersebut menjadikannya surga bagi perkembangbiakan satwa langka tersebut.

Namun, kian hari keberadaan penyu laut semakin tergusur dan terancam karena kerakusan manusia. Dari sekitar 63 km panjang garis pantai di Paloh, hanya sekitar 5,9 km yang kini masih banyak dijumpai penyu.

“Dahulu kalau sekadar 20-30 sarang (telur) penyu pasti ada. Tapi sejak 5-6 tahun terakhir untuk mendapatkan satu sarang pun susah,” kata Sekretaris Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Asman.
Perburuan telur yang semakin marak dalam satu dasawarsa terakhir menjadi penyebab utama berkurangnya populasi penyu di sepanjang Pantai Paloh. Sebab, untuk mendapatkan telur-telur itu para pemburu tidak segan-segan membantai induk penyu.

Berdasarkan penelusuran di Desa Temajuk, didapati satu induk penyu berusia sekitar 30 tahun yang mati mengenaskan akibat pembantaian. Perbuatan sadis itu diduga kuat bukan baru sekali terjadi, tetapi telah berlangsung bertahun-tahun.

“Mereka (pemburu) tidak sabar menunggu telur keluar, mereka lantas membunuh dan membedah induk penyu untuk mendapatkan telurnya,” kata Kepala Desa Temajuk Mulyadi.

Telur-telur penyu dari Paloh itu dijual dan diselundupkan ke Distrik Sematan, Malaysia, melalui pintu perbatasan di Temajuk-Telok Melano yang hanya berjarak 3 km atau sekitar 30 menit perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari Desa Temajuk.

Para penyelundup bisa leluasa membawa dagangan mereka karena minimnya penjagaan. Di pintu perlintasan tradisional itu hanya terdapat satu pos polisi Malaysia, sedangkan di sisi Indonesia tidak ada penjagaan sama sekali.

Berbekal hubungan kekerabatan dan saling mengenal satu sama lain, warga kedua wilayah yang berbeda negara itu bebas keluar-masuk melalui pintu perlintasan tersebut setiap hari. Tidak terkecuali para penyelundup telur penyu.

“Pemeriksaan ketat hanya diberlakukan jika membawa barang-barang dari Malaysia, tapi kalau memasukkan barang dari wilayah kita, tidak terlalu ketat,” ujar Asman.

Perburuan dan penyelundupan telur penyu di Paloh berlangsung secara sistematis dan terorganisasi karena dilakukan sebuah sindikat yang melibatkan aparat balai konservasi dan sumber daya alam (BKSDA) setempat, seorang petugas pengawas yang seharusnya menjaga dan melindungi habitat penyu dari kepunahan.

“Pencurian dan penjualan telur penyu di sini dilakukan orang-orangnya Latief. Mereka itu bukannya mengawasi dan menyelamatkan penyu, melainkan justru menjarah telur-telurnya. Penangkaran yang mereka buat juga hanya kamuflase karena telurnya banyak yang dijual,” ungkap Trino Junaidi, 34, warga Desa Sebubus, Kecamatan Paloh.

Tertuduh Latief tidak menampik tudingan mantan pemburu telur penyu itu. Ia beralasan penjualan telur tersebut untuk menggaji lima relawan yang direkrutnya sebagai petugas pengawas.
“Sebagian telur memang ada yang dijual guna membayar gaji mereka, Rp300 untuk setiap butir telur yang akan ditangkarkan,” kata petugas honorer BKSDA tersebut. (Aries Munandar)

Indahnya Pasar Rakyat Melbourne


Queen Victoria Market sebenarnya pasar rakyat. Namun, situasinya begitu kontras dengan pasar rakyat di Indonesia termasuk di Kota Pontianak seperti pasar Flamboyan, pasar Mawar ataupun pasar lain di Kota Khatulistiwa.

Dengan pengelolaan yang baik dan ramah lingkungan, Queen Victoria Market terlihat rapi dan bersih. Tak ada bau amis saat berjalan di lapak daging atau tak ada lantai becek saat menelusuri lapak sayur-mayur.

Para turis biasanya juga menyempatkan diri mampir di pasar ini. Mereka mengabadikan kesibukan di pasar yang buka pada Selasa dan Kamis pada pukul 06.00-02.00, serta Jumat pukul 06.00-17.00. Pasar ini juga buka pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

James Richards, seorang pedagang di pasar tersebut mengatakan mereka menjaga komitmen untuk meminimalisir penggunaan kantong plastik. "Sedapat mungkin kami menghindari penggunaan kantong plastik. Upaya ini bisa berhasil jika pembeli juga punya niat yang sama," kata dia.

Tak hanya menggunakan kantong ramah lingkungan, pengelola pasar juga mengolah sampah organik, sisa lemak dan tulang, jeroan ikan dikumpulkan dan diproses untuk pupuk. Bekas minyak goreng pun diolah menjadi biodiesel.

Pada April 2003, Queen Victoria Market, memasang 1.328 keping panel surya yang mencakup sepertiga atap pasar. Pada saat itu, proyek ini merupakan yang terbesar di perkotaan di belahan bumi selatan. Sistem ini bisa menghasilkan 252.000 kilowatt listrik setiap tahun, sehingga setara untuk memenuhi kebutuhan listrik 46 rumah dalam setahun.

Pengelola juga menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Air tersebut diolah dan selanjutnya digunakan untuk menyiram toilet umum di Queen Street.

Proyek ini mengurangi konsumsi air minum pasar sekitar 25 persen dan menghemat sekitar enam kolam renang olimpiade air setiap tahun.

Sejarah pasar ini cukup panjang, menurut berbagai literature Queen Victoria Market dibangun sejak 1878. Pengelola juga menyarankan sekolah mengajak anak didiknya berbelanja di pasar tersebut.

Sehingga siswa mendapatkan pengalaman positif dari kunjungan tersebut. Para pengunjung siswa yang diorganisir diberikan diskon khusus. (Stefanus Akim)

Sehari menjelang Royal Wedding

Inggris tersulap kemegahan Royal Wedding 2011. Pasangan Catherine Elizabeth Middleton dan William Arthur Philip Louis akan mengakhiri masa lajangnya esok hari. London pun menjadi pusat perhatian dunia.


Sehari menjelang pernikahan akbar abad 21 ini, hampir setiap sudut kota London terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Ratusan turis dari dalam maupun luar UK berdatangan sejak tiga hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Mereka berharap dapat menjadi saksi hidup pernikahan salah satu garis keturunan bangsawan paling elit Inggris saat ini.

Westminter Abbey, tempat dimana pasangan ini akan dinobatkan menjadi suami istri telah dipadati manusia sejak H-2. Tenda – tenda mungil telah didirikan di sekitar gereja khusus acara keluarga kerajaan tersebut.

Beribu penonton the Royal Wedding terlihat antusias meski harus berhadapan dengan cuaca dingin kota London. Suhu yang sejak beberapa hari lalu mendadak turun tidak menghalangi keinginan warga untuk menyaksikan salah satu sejarah terbesar abad ini, pernikahan terbesar selama 30 tahun belakangan. Sebagian dari mereka bahkan datang dari bagian benua lain, seperti Kanada dan California.

Mengantisipasi membludaknya jumlah pengunjung pada tanggal 29 April esok, pemerintah kota London telah mempersiapkan penjagaan ketat. Pasukan berkuda dan sejumlah petugas keamanan telah ditempatkan di lokasi – lokasi keramaian. Beberapa lokasi dan jalur transportasi mulai ditutup sejak H-1.

Fasilitas- fasilitas umum tidak luput dari perhatian pemerintah. Toilet umum di sekitar spot keramaian telah dipersiapkan dengan cermat, terutama bagi para pengunjung yang menginap di tenda – tenda. Sedangkan transportasi publik masih akan beroperasi pada hari H, hanya saja beberapa jalur akan dialihkan melalui jalur alternatif.

Selain menyiapkan lokasi sepanjang jalur Istana Buckingham – Westminter Abbey, beberapa layar lebar juga telah disiapkan untuk menyiarkan secara langsung acara sakral tersebut, diantaranya ditempatkan di Hyde Park dan Trafalgar Square. Diperkirakan 2 miliar pasang mata akan menyaksikan pernikahan terbesar keluarga kerajaan selama 30 tahun terakhir ini. (Pipiew)

Pontianak, (Bukan) Kota Kuntilanak!


Bila anda masih memercayai Google sebagai tempat mengadu paling ampuh, anda pasti mengamini judul tulisan ini. Hampir lima tahun lalu, saya dan beberapa teman blogger geleng-geleng kepala. Kami kaget melihat hasil pencarian tentang "Pontianak" di Google. Untuk kata kunci Pontianak, yang menempati halaman pertama hampir tak mengalami pergeseran dari dulu hingga kini. Isinya, tak jauh-jauh dari hantu (baca: Kuntilanak). Bagi kaskuser, pertamax adalah kebanggaan. Bagi online marketer, page one di Google berarti uang. Namun bagi Pontianak, halaman pertama Google adalah sebuah ketakutan.

Dengan bergiat memperbanyak posting yang positif tentang Pontianak, saya berharap akan tergesernya konten “beraroma kamboja” dari halaman pertama Google. Karena bagi Google, content is king. Tulisan ini menjadi salah satu ikhtiarnya. Nah, berikut nyala unik Pontianak yang dapat mengukir kesan di hati. Syukurlah bila ada niat berwisata atau malah, balek kampong!

WARKOP atawa Warung Kopi. Sangat mudah menemukannya di Pontianak. Terutama sepanjang jalan Gajahmada dan Tanjungpura. Kawasan ini merupakan surga kuliner. Bila ke Pontianak, sempatkan anda mengitari jalan ini di waktu malam. Meski belum dikemas secara maksimal, namun untuk wisata kuliner, di sinilah tempatnya. Dari masakan negeri Paman Sam, hingga Chinese Food tersaji. Dari restoran Padang hingga Lele Lamongan ada di sini. Seorang teman berkata, bila ingin berwisata (dan berbisnis) kuliner, Pontianaklah tempatnya!

Ups, hampir lupa, bila ingin ngopi, coba pesan Kopi Pancong, menu andalan warkop sejak dulu. Kopi yang isinya setengah gelas. Tambah Amboiii bila ditemani pisang goreng srikaya di Warkop Winny. Mertua lewatpun tak dipandang. :)

Hampir semua penduduk Pontianak, pasti pernah ngopi di warkop. Di warkoplah, demokrasi menunjukkan wujud. Siapapun bebas bicara apapun. Tak ada dusta. Tak ada amarah. Semua terbuka.

SUNGAI KAPUAS, Tugu Khatulistiwa, Kraton Kadariah, Masjid Jami’ merupakat paket komplit wisata Pontianak. One stop tourism! Setengah jam dari bandara Supadio anda tiba di Sungai Kapuas. Daya pikatnya akan lebih terasa bila anda menyusurinya dengan perahu yang mangkal di Serasan. Menikmati eksotisme sungai terpanjang di Indonesia. Sungai yang dahulunya menjadi transportasi utama penduduk lokal. Kemudian sempatkan singgah ke Kraton Kadariah yang persis berhadapan dengan Masjid Jami’. Jaraknya berdekatan. Kedua tempat ini masih dipertahankan orisinalitasnya. Asal muasal Pontianak terletak di sini.

Sayangnya lagi-lagi, ini belum “dijual” dan dikemas secara maksimal. Belum ada paket wisata yang berani menawarkan wisata sejarah menyusuri sungai Kapuas dan rehat sejenak di Tugu Khatulistiwa. Terkesan bila Sungai Kapuas masih menjadi dapur, bukan terasnya Pontianak. Setidaknya bila berkaca dari tetangga Pontianak: Kuching, Malaysia!

Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Tugu Khatulistiwa. Titik nol derajat. Setiap tanggal 21 Maret dan 23 September, bayangan tubuh akan menghilang bila tepat berdiri di titik kulminasinya. Matahari tepat berada di titik tersebut. Tugu Khatulistiwa menjadi simbolnya. Menarik bukan? Keunikan yang memang tidak hanya milik Pontianak, tapi untuk sebuah ibukota, Pontianak satu-satunya ibukota di dunia yang dilewati garis khatulistiwa. Pada beberapa tahun terakhir, peringatan kulminasi dirangkai dengan even budaya.

Masih ada even menarik lainnya yang layak menjadi alasan bila anda ke Pontianak. Gawai Dayak, Cap Go Meh, Festival Meriam Karbit, salah tiganya. Menarik, karena benar-benar unik dengan sentuhan khas Pontianak.

Bila mau sedikit membuka mata, Pontianak sungguh mewakili gambaran bangsa: raksasa tidur! Berbenah diri dan segera bangun tentunya menjadi jawaban dini. Belum terlambat untuk memulai segalanya. Dan, akhirnya kelak, Pontianak pun menjelma menjadi kota 'bidadari', menggantikan 'kuntilanak', yang nangkring di halaman pertama Google. (Yaser)

Harapan di Akhir Penantian Panjang

Burhanuddin A Rasyid semringah. Bupati Sambas, Kalimantan Barat, itu tidak henti mengembangkan senyumnya kepada tetamu yang datang.

Bangga dan bahagia menyelimuti perasaan bupati yang telah memimpin Sambas selama dua periode itu.

“Saya selaku bupati beserta masyarakat Sambas sangat bersyukur pada hari ini. Apa yang kami tunggu-tunggu dan perjuangkan selama ini akhirnya bisa terwujud,” kata Burhanuddin.

Hari itu, tepat di awal 2011, Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, resmi beroperasi. Sebuah seremoni digelar di PPLB Biawak, Serawak, Malaysia, yang bersebelahan dengan PPLB Aruk, menandai peresmian kedua pintu masuk ke kedua wilayah beda negara tersebut.

Pembukaan PPLB yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Sambas itu adalah buah perjuangan panjang. Butuh waktu puluhan tahun untuk mewujudkan impian tersebut. Bahkan, agenda peresmian yang dijadwalkan sejak dua tahun lalu selalu tertunda karena berbagai kendala.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat Fathan A Rasyid menyatakan pembukaan PPLB Aruk telah dirintis sejak kesepakatan dalam Forum Kerja Sama Sosial-Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) pada 1983.

Ada dua pintu masuk resmi yang disepakati untuk dibuka, yakni Entikong, Kabupaten Sanggau-Tebedu, Serawak, dan Aruk, Sambas-Biawak, Serawak. PPLB Entikong-Tebedu diresmikan pada 1992 dan menjadi pintu resmi pertama di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat.

“Dalam tempo 18 tahun setelah peresmian border (PPLB) di Entikong, baru dibuka satu lagi PPLB baru, yakni di Aruk,” kata Fathan.

Ia mengungkapkan banyak faktor yang menjadi kendala sehingga PPLB Aruk baru bisa diresmikan pada awal tahun ini. Di antaranya menyangkut persoalan bujet dan prasarana serta personel yang harus disiapkan kedua pihak.

“Ada sistem teknologi informasi, infrastruktur, dan regulasi yang semuanya harus disiapkan secara komprehensif,” ungkap Fathan.

Jadi kubangan
Pembukaan PPLB Aruk memberikan secercah harapan baru dalam mengatasi ketertinggalan dan keterisolasian wilayah. Optimisme itu muncul karena akses perdagangan dan jasa dari kedua negara serumpun tersebut kini semakin terbuka.

Berbagai program pembangunan pun telah dilancarkan pemerintah, untuk menyongsong geliat perekonomian di wilayah perbatasan ini. Di antaranya, penyiapan sumber daya manusia melalui penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

“Dahulu di Aruk hanya ada satu sekolah dasar. Kini, sudah ada SMA dan SMK. Kualitas pendidikan di (Kecamatan) Sajingan Besar juga melonjak dari rangking 19 menjadi rangking empat se-Kabupaten Sambas,” jelas Burhanuddin.

Kendati demikian, masih banyak tugas yang harus diselesaikan pemerintah untuk mewujudkan harapan masyarakat itu. Sebutlah soal jalan akses ke Aruk yang saat ini baru sekitar 8 kilometer beraspal mulus. Selebihnya berlubang dan masih berupa jalan tanah merah.

Kondisi itu dapat mengganggu kelancaran arus transportasi karena beberapa ruas jalan berubah menjadi kubangan di saat musim penghujan. Jika sudah begitu, hanya kendaraan bermotor roda empat bergardan ganda yang bisa menuju lokasi perbatasan.

Kondisi jalan rusak tidak hanya di sebelah Indonesia, tetapi juga di sebelah Malaysia. Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, terdapat sekitar 40 kilometer jalan dari PPLB Biawak menuju Kota Kuching yang becek dan berlubang. Namun, proyek perbaikan jalan di Malaysia sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu.


Sokongan ADB
Burhanuddin memastikan kondisi jalan di wilayahnya juga akan segera diperbaiki mulai bulan depan. Proyek senilai Rp350 miliar itu ditargetkan rampung pada pertengahan tahun depan.

“Kalau saya tidak keliru, dananya dari Asian Develepoment Bank (ADB). Proyeknya sudah ditenderkan pemerintah pusat,” ujar mantan penyuluh pertanian itu.

PPLB Aruk sebelumnya hanya berupa pintu pelintasan tradisional. Hanya warga setempat dan pemilik tanda masuk khusus yang dibebaskan keluar-masuk melalui pelintasan ini. Namun, jangkauan bepergian mereka dibatasi di sekitar wilayah perbatasan karena tanda masuk itu tidak berlaku sebagai paspor.

Untuk masuk dengan mengenakan paspor, mereka, seperti warga Kalbar lainnya, harus melalui PPLB Entikong. Butuh waktu seharian untuk menempuh perjalanan dari Aruk ke Entikong dengan kendaraan bermotor.

“Selama ini setiap hari rata-rata ada 30 orang dari wilayah Indonesia yang melintas di sini, dengan mengunakan pas (tanda masuk). Dari Malaysia, sekitar 10 orang,” kata Wakil Kepala Kantor Pelayanan Imigrasi Biawak Mauris Dapot.

Pembukaan PPLB Aruk sedia nya akan dilakukan bersama PPLB Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. Namun, PPLB Badau baru bisa diresmikan pada tahun depan karena masih menunggu kesiapan pihak Malaysia.

“Ada masalah dalam pengerjaan PPLB mereka. Namun, sudah kami (beri) deadline, Februari 2012 pengerjaannya harus selesai,” ungkap Fathan.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyatakan pembukaan pintu masuk resmi ke Malaysia juga memiliki nilai kemanusiaan tinggi. Banyak warga di kedua perbatasan yang masih bersaudara atau memiliki ikatan kekerabatan. (12 Januari 2011, ARIES BBC)

Andai Saja Ritchie Bisa Bicara


(Catatan Lawatan Pariwisata ke Sarawak)


Andai saja Ritchie bisa bicara, saya ingin sekali mengundangnya ke Pontianak. Mengajaknya bertemu beberpa pejabat dan penguasa yang kabupatennya masih ada hutan—kampung halaman Ritchie—sebelum ia diboyong seorang wartawan, puluhan tahun silam ke Sarawak.

Saya ingin Ritchie bercerita tentang hidupnya sekarang, pengalamannya kepada sisa-sisa saudara-maranya yang hidup di sisa hutan, di gunung-gunung (Gunung Palung, Betung Karihun, Danau Sentarum, Bukit Raya dan Bukit Baka dan lain sebagainya) yang tak lagi perawan, sepeti ketika nenek moyangnya mengembara menembus belantara, jauh sebelum pulau terbesar ketiga di dunia ini diiris-iris menjadi 3 negara oleh manusia.

Saya berhenti membidik. Mark, seorang turis dari  Denmark bertanya pada saya, yang mana Ritchie?
“Yang mana ya, hmm.”
Ritchie memang tidak datang menemui kami pagi itu. Sejak kemarin dia menghilang ke dalam hutan, membiarkan saja Dahlia betina dan anak-anaknya dipotret turis. Sang turis berlalu, saya kembali memotret.

Tentu saja niat saya tak mungkin terlaksana. Karena,  Ritchie hanyalah seekor orang utan (Pongo pygmaeus).

Walau  dia telah menjadi ‘penguasa’ hutan Semegoh—yaitu kawasan cagar alam yang berjarak sekitar 24 km dari Bandar Kuching, Sarawak—tapi tetap saja dia tak mungkin saya undang ke Pontianak.

Ritchie bukan orang utan biasa, di hutan seluas sekitar 800 hektar itu dia adalah satu-satunya  mamalia berbulu paling besar dan paling ditakuti binatang rimba.

Dia juga pejantan paling dominan dengan banyak betina. Keluarga Ritchie selalu membuat penasaran para turis manca negara yang  datang  sambil menghunus kamera.

Tapi saya bertanya-tanya,  bagaimana Ritchie  bisa menjadi ikon hutan negeri koloni James Brooke tersebut? Apa yang  membuatnya begitu popular da dibuatkan ‘monumen’? Bahkan foto dan tampang rimbanya yang sama sekali tidak cakep itu tersebar di seantero Sarawak, diperbanyak dan dicetak di kertas tiket, di famflet, hingga jutaan lembar T-sirt- yang selalu saja dibeli para turis, termasuk para pejabat dari Pontianak yang datang ke Sarawak?

Sementara hidup orang utan di Kalimantan semakin berat.  Dari 55.000 Orang utan di Indonesia,  1.330  hinggga 2.000 mendiami Taman Nasional Betung Kerihun.  Kemudian di Taman Nasional Danau Sentarum 500, dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya diperkirakan 175, Rongga serta Parai berkisar 1.000. Hanya di Gunung Palung saja yang populasinya agak banyak, yaitu 2500.  Ketika orang utan di Kalimantan Barat ini terancam punah, kelompok Ritchie pula malah makan-minum cukup dan mewah.

Saya terkenang nasib 20 orang utan di Pelang, 20 kilometer dari Kota Ketapang. Akhir tahun 2010 lalu, kelompok orang utan raib setelah tersudut oleh pembukaan perkebunan kelapa sawit. 
“Hanya sekitar 5 ekor saja yang berhasil diselamatkan,” kata salah seorang aktivis Orang utan di Ketapang, yang minta namanya tidak disebutkan.
Hal tersebut dibenakarkan Ketua Yayasan Wadah Riset dan Informasi Kebudayaan (Warisan) Ketapang, Alexander Yan Sukanda.  Camp Orang Utan miliknya yang dibangun Yan tahun 2007 lalu di  Sungai Sentap juga turut digusur oleh perkebunan kelapa sawit. 

Ohya, nama Ritchie melekat pada ‘raja Semegoh’ itu konon dalam rangka mengenang jasa seorang wartawan Sarawak bernama James Ritchie, yang membawa Ritchie ke pusat rehabilitasi tersebut sejak masih bayi.

Pusat itu pertama kali didirikan tahun 1975 lalu untuk merawat binatang liar yang sakit, terluka, yatim piatu, atau yang sebelumnya disimpan sebagai hewan peliharaan illegal sebelum kemudian dilepas kembali ke alam liar.

Kini kawasan ini juga berfungsi sebagai pusat penelitian satwa liar dan program penangkaran untuk spesies yang terancam punah.  Semegoh juga telah menjadi sekolah alam untuk mendidik pengunjung dan masyarakat umum tentang pentingnya konservasi.  Saat ini tak kurang dari 1.000 mamalia langka, burung dan reptil dari puluhan spesies yang berbeda tercatat disana. Keistimewaan tempat ini adalah karena menjadi tempat rehabilitasi orang utan.

Orang utan yang diselamatkan harus menjalani medical check up dan ditempatkan di kandang. Seperti halnya manusia muda, Orang utan muda juga diajari cara-cara bertahan hidup di habitatnya. Setiap mereka dibawa ke tempat-tempat yang cocok di hutan di mana mereka belajar memanjat pohon, berayunan di cabang dan memetik dedaunan hiju untuk. Biasanya dalam 2 sampai 4 tahun mereka sudah bisa mendiri dan boleh dilepaskan ke dalam Hutan Suaka sekitarnya. Kawanan orang utan ini biasanya menghabiskan sebagian besar waktu di sekitar hutan dan akan kembali ke pusat rehabilitasi saat jam makan tiba.  Tapi bagi yang sudah mandiri selama musim buah biasanya mereka menghilang ke dalam hutan. 
“Ini pertanda baik dan menunjukkan bahwa mereka beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru mereka,” terang seorang petugas cagar alam.

Tahap akhir dari proses rehabilitasi panjang ini adalah  ketika orang utan ini akan menjadi warga beberapa Taman Nasional yang ada di Sarawak. Jika anda ingin melihat orang utan di Semogoh, waktu yang tepat adalah pagi pukul 9.00-10:00 dan 3,00-3,30 WIB saat keluarga orang utan makan. 

Pagi itu saya bertemu tiga anak orang utan muda berayun di sela-sela cabang pohon, dikawal induknya. Keluarga orang utan itu berhenti persis di ujung jalan setapak, ketika seorang petugas muncul menenteng ember penuh buah-buahan dan botol susu untuk dibagikan. 

Saya memang tidak bertemu Ritchie, tapi saya menemukan pelajaran berharga dari sebuah pusat kehidupan. Andaikan saja Orang utan bisa bicara, mereka mungkin akan mengisahkan dongeng yang bisa membuat kita menangis

Travel News

 
© Copyright Borneo Blogger Community 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.