3:42 AM
HIDUP di belantara gedung-gedung bertingkat, bukanlah lagi hal yang aneh. Setidaknya jika yang dijadikan pembanding berupa kehidupan masyarakat pedalaman nun di masa lalu, pada masa-masa awal kemerdekaan, dengan masa kini yang merupakan buah era reformasi.
Sudah begitu banyak putra-putri pedalaman yang akhirnya bisa merasakan pendidikan sebagaimana layaknya masyarakat perkotaan. Dan cukup banyak pula dari mereka yang karena perjuangan dan usahanya, berhasil mengubah kehidupan dari orang kampung menjadi orang kota.
Tetapi saya berpikiran lain. Mengapa setiap saat selalu terasa rindu pada kampung halaman? Rindu pada kerimbunan hutan, kucuran air alam yang tak kunjung putus, tiupan angin segar, juga kicauan burung yang terbang lepas di sela-sela kanopi pepohonan.
Apakah gedung pencakar langit metropolitan sudah tidak menarik lagi? Sepatu mengkilap dan pakaian rapi? Bekerja di kantor, bertemu orang-orang modern, yang jauh dari kesan “kotor-becek” karena pekerjaan di hutan?
Saya sendiri pun sulit menjawabnya. Sebab, keinginan back to nature bukan perkara sepele. Akan banyak orang yang membelalakkan mata keheranan: mengapa setelah susah payah menempuh pendidikan di kota, mencoba bekerja di beberapa perusahaan modern, eeeh kok malah memilih pulang kampung?
Bukankah pulang kampung itu simbol kegagalan? Atau menyiratkan “kemunduran” alias anti kemapanan?
Ah terserahlah! Rupa-rupanya, tak terlalu baik juga jika terlalu memperdulikan gunjingan orang lain. Rinduku pada alam dan hutan di kampung, mungkin pengobat segala masalah ini.
Masalah sikut-menyikut di dunia perkotaan, persoalan intrik-intrik internal di kantor, atau sekadar emosi yang sering memuncak setiap saat. Pulang kampung, maka siaplah melarat, tanpa akses internet, tanpa meeting bisnis, tanpa derap modernisasi.
Jelang pertengahan Juli 2011 lalu, aku berkesempatan pulang kampung di pedalaman Kalimantan Barat. Lumayan, aku bisa sedikit mengobati kerinduan akan hutan, alam, halaman atau pekarangan belakang yang penuh pohon buah-buahan, juga suasana kehidupan di kampung.
Merasakan kembali ritme kehidupan yang unik. Belum tengah malam, suasana kampung sudah begitu sepi dan gelap. Bandingkan dengan derap kehidupan perkotaan yang seakan tidak pernah tidur.
Dan gelap di perkampungan membuat tidur menjadi nyenyak, beralas tikar pandan dan lantai papan. Segar dan sejuk yang mendamaikan. Dan pagi-pagi sekali, kokok ayam yang merdu terdengar di belakang rumah, membangunkan kami dari lelap.
Air sungai kecil di belakang rumah masih sangat jernih, masih cukup terpelihara dan belum tercemar oleh aktivitas liar penambangan emas tanpa izin di daerah perhuluan. Bambu masih lebat dan di sela-selanya masih tumbuh subuh rebung sebagai bahan sayuran.
Juga pakis-pakis segar siap dipetik, dan jika beruntung, ikan-ikan sungai masih bisa tertangkap oleh pancing, pukat, atau bubu (perangkap ikan yang terbuat dari bambu). Tapi, memang semuanya sudah tidak alami lagi, karena kampungku sudah sebegitu tercemar oleh arus modernisasi.
Orang-orang serakah melakukan penambangan emas liar di perhuluan sungai besar, sehingga airnya kini menjadi keruh. Tak hanya keruh, tapi kuat dugaan cairan mercury atau air raksa limbah tambang ikut mencemari.
Sedikit bersyukur, karena sungai kecil di belakang rumah masih relatif terjaga dan jernih airnya. Dan sejumlah hutan kecil masih bisa kukunjungi, untuk menikmati kerindangan pepohonan yang sanggup membuat suasana siang terasa bagai sore, saking rindangnya kanopi.
Sebenarnya kampungku sudah tidak sepenuhnya tradisional lagi, namun ciri-ciri “pedalaman” masih senantiasa terasa. Ada kesan yang menyapa, ada kerinduan yang sedikit terobati. (Pujangga Endi)
Masih Rindu Kampung Halaman
HIDUP di belantara gedung-gedung bertingkat, bukanlah lagi hal yang aneh. Setidaknya jika yang dijadikan pembanding berupa kehidupan masyarakat pedalaman nun di masa lalu, pada masa-masa awal kemerdekaan, dengan masa kini yang merupakan buah era reformasi.
Sudah begitu banyak putra-putri pedalaman yang akhirnya bisa merasakan pendidikan sebagaimana layaknya masyarakat perkotaan. Dan cukup banyak pula dari mereka yang karena perjuangan dan usahanya, berhasil mengubah kehidupan dari orang kampung menjadi orang kota.
Tetapi saya berpikiran lain. Mengapa setiap saat selalu terasa rindu pada kampung halaman? Rindu pada kerimbunan hutan, kucuran air alam yang tak kunjung putus, tiupan angin segar, juga kicauan burung yang terbang lepas di sela-sela kanopi pepohonan.
Apakah gedung pencakar langit metropolitan sudah tidak menarik lagi? Sepatu mengkilap dan pakaian rapi? Bekerja di kantor, bertemu orang-orang modern, yang jauh dari kesan “kotor-becek” karena pekerjaan di hutan?
Saya sendiri pun sulit menjawabnya. Sebab, keinginan back to nature bukan perkara sepele. Akan banyak orang yang membelalakkan mata keheranan: mengapa setelah susah payah menempuh pendidikan di kota, mencoba bekerja di beberapa perusahaan modern, eeeh kok malah memilih pulang kampung?
Bukankah pulang kampung itu simbol kegagalan? Atau menyiratkan “kemunduran” alias anti kemapanan?
Ah terserahlah! Rupa-rupanya, tak terlalu baik juga jika terlalu memperdulikan gunjingan orang lain. Rinduku pada alam dan hutan di kampung, mungkin pengobat segala masalah ini.
Masalah sikut-menyikut di dunia perkotaan, persoalan intrik-intrik internal di kantor, atau sekadar emosi yang sering memuncak setiap saat. Pulang kampung, maka siaplah melarat, tanpa akses internet, tanpa meeting bisnis, tanpa derap modernisasi.
Jelang pertengahan Juli 2011 lalu, aku berkesempatan pulang kampung di pedalaman Kalimantan Barat. Lumayan, aku bisa sedikit mengobati kerinduan akan hutan, alam, halaman atau pekarangan belakang yang penuh pohon buah-buahan, juga suasana kehidupan di kampung.
Merasakan kembali ritme kehidupan yang unik. Belum tengah malam, suasana kampung sudah begitu sepi dan gelap. Bandingkan dengan derap kehidupan perkotaan yang seakan tidak pernah tidur.
Dan gelap di perkampungan membuat tidur menjadi nyenyak, beralas tikar pandan dan lantai papan. Segar dan sejuk yang mendamaikan. Dan pagi-pagi sekali, kokok ayam yang merdu terdengar di belakang rumah, membangunkan kami dari lelap.
Air sungai kecil di belakang rumah masih sangat jernih, masih cukup terpelihara dan belum tercemar oleh aktivitas liar penambangan emas tanpa izin di daerah perhuluan. Bambu masih lebat dan di sela-selanya masih tumbuh subuh rebung sebagai bahan sayuran.
Juga pakis-pakis segar siap dipetik, dan jika beruntung, ikan-ikan sungai masih bisa tertangkap oleh pancing, pukat, atau bubu (perangkap ikan yang terbuat dari bambu). Tapi, memang semuanya sudah tidak alami lagi, karena kampungku sudah sebegitu tercemar oleh arus modernisasi.
Orang-orang serakah melakukan penambangan emas liar di perhuluan sungai besar, sehingga airnya kini menjadi keruh. Tak hanya keruh, tapi kuat dugaan cairan mercury atau air raksa limbah tambang ikut mencemari.
Sedikit bersyukur, karena sungai kecil di belakang rumah masih relatif terjaga dan jernih airnya. Dan sejumlah hutan kecil masih bisa kukunjungi, untuk menikmati kerindangan pepohonan yang sanggup membuat suasana siang terasa bagai sore, saking rindangnya kanopi.
Sebenarnya kampungku sudah tidak sepenuhnya tradisional lagi, namun ciri-ciri “pedalaman” masih senantiasa terasa. Ada kesan yang menyapa, ada kerinduan yang sedikit terobati. (Pujangga Endi)
2:25 PM
Kami, Borneo Blogger Community & Mata Enggang bekerjasama dengan Ford Foundation dan Cipta Media membuka kesempatan bagi anda bergabung bersama Program Beasiswa Blogger Perbatasan. Syaratnya:
1. Warga negara Republik Indonesia, berasal dari daerah perbatasan di Kalbar
2. Berusia minimal 17 tahun atau sudah pernah menikah
3. Tidak berstatus PNS
4. Dapat mengoperasikan komputer dan hand phone (lebih disukai yang memiliki komputer/laptop sendiri dan memiliki ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis)
Bentuk & Jenis Beasiswa
- Paket peningkatan kapasitas blogger perbatasan (Pelatihan jurnalime warga berupa pelatihan menulis, memotret, dan video; pelatihan membuat dan mengoperasikan blog, tweeter dan facebook) gratis selama 5 bulan.
- Paket fasilitas pendukung program (fasilitas modem dan pulsa internet gratis selama 5 bulan)
- Pada akhir program, akan diberikan penghargaan berupa uang+piagam kepada 3 orang blogger perbatasan yang selama mengikuti program ini menghasilkan karya (tulisan, photo atau video) terbaik.
- Seluruh karya-karya terbaik dari peserta akan diterbitkan dalam bentuk buku (cetak) & ebook yang bisa diakses di internet.
Segera kirim biodata anda ke alamat email: borderblogger@mail.com, atau diantar langsung ke Sekretariat Border Blogger Movement (BBM), Komp. Villa Ria Indah Blok G-11, Tanjung Hulu Pontianak Timur, Kalimantan Barat.
Kontak: 085386222521 (Bosio ) dan 08125725290 (Aris Munandar). Kami tunggu hingga 25 Januari 2012.
Saatnya Orang Perbatasan Bicara Perbatasan
Kami, Borneo Blogger Community & Mata Enggang bekerjasama dengan Ford Foundation dan Cipta Media membuka kesempatan bagi anda bergabung bersama Program Beasiswa Blogger Perbatasan. Syaratnya:
1. Warga negara Republik Indonesia, berasal dari daerah perbatasan di Kalbar
2. Berusia minimal 17 tahun atau sudah pernah menikah
3. Tidak berstatus PNS
4. Dapat mengoperasikan komputer dan hand phone (lebih disukai yang memiliki komputer/laptop sendiri dan memiliki ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis)
Bentuk & Jenis Beasiswa
- Paket peningkatan kapasitas blogger perbatasan (Pelatihan jurnalime warga berupa pelatihan menulis, memotret, dan video; pelatihan membuat dan mengoperasikan blog, tweeter dan facebook) gratis selama 5 bulan.
- Paket fasilitas pendukung program (fasilitas modem dan pulsa internet gratis selama 5 bulan)
- Pada akhir program, akan diberikan penghargaan berupa uang+piagam kepada 3 orang blogger perbatasan yang selama mengikuti program ini menghasilkan karya (tulisan, photo atau video) terbaik.
- Seluruh karya-karya terbaik dari peserta akan diterbitkan dalam bentuk buku (cetak) & ebook yang bisa diakses di internet.
Segera kirim biodata anda ke alamat email: borderblogger@mail.com, atau diantar langsung ke Sekretariat Border Blogger Movement (BBM), Komp. Villa Ria Indah Blok G-11, Tanjung Hulu Pontianak Timur, Kalimantan Barat.
Kontak: 085386222521 (Bosio ) dan 08125725290 (Aris Munandar). Kami tunggu hingga 25 Januari 2012.
2:08 PM
MALAM sepi yang menyelimuti Pantai Tanjung Sungaibelacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), membuat kawasan itu seperti tidak berpenghuni.
Hanya Laut Natuna dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus menyusup di tengah remang cahaya bulan. Bertambah kencang hempasan, bertambah jelas pula sosok seekor penyu hijau yang merayap ke bibir pantai. Ia menyeret tubuh tambunnya dan terseok-terseok menuju pinggiran sejauh 50 meter dari pesisir.
Sampai di lokasi tujuan, satwa yang dilindungi ini mulai menggali pasir dan memulai ritual malamnya. Bertelur. Satu malam, ada sekitar 50 penyu betina mendarat di pantai tersebut. Setiap induk biasanya mengeluarkan 114 butir sekali bertelur. “Mei-Juli merupakan puncak musim penyu bertelur,” jelas staf pemantau habitat penyu WWF Indonesia Kalbar Dwi Suprapti, dua pekan lalu.
Selama periode tersebut, penyu-penyu itu mampu bertelur 7-8 kali dengan interval waktu setiap dua minggu sekali. Selanjutnya 3-5 tahun kemudian mereka akan kembali untuk melakukan siklus peneluran yang sama.
Dua jam berlalu, namun peneluran belum berakhir. Sejurus kemudian, beberapa personel WWF dan aparat keamanan dengan sigap menggali kembali sarang untuk memindahkan telur penyu ke lokasi yang aman.
Mereka harus bergerak cepat dan tepat karena berkejaran waktu dengan para pencuri telur yang mengintai dari kejauhan.
“Harapan hidup penyu di alam bebas sangat rendah, yakni satu berbanding 1.000 tetasan. Ancaman terbesarnya berasal dari hewan predator, faktor lingkungan, dan aktivitas perburuan oleh manusia,” kata Dwi.
Tanjung Sungaibelacan merupakan salah satu wilayah pantai di Kecamatan Paloh yang menjadi habitat alam penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricate) di Kalbar.
Pantai di sepanjang kecamatan itu landai dan berombak relatif tenang. Kondisi tersebut menjadikannya surga bagi perkembangbiakan satwa langka tersebut.
Namun, kian hari keberadaan penyu laut semakin tergusur dan terancam karena kerakusan manusia. Dari sekitar 63 km panjang garis pantai di Paloh, hanya sekitar 5,9 km yang kini masih banyak dijumpai penyu.
“Dahulu kalau sekadar 20-30 sarang (telur) penyu pasti ada. Tapi sejak 5-6 tahun terakhir untuk mendapatkan satu sarang pun susah,” kata Sekretaris Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Asman.
Perburuan telur yang semakin marak dalam satu dasawarsa terakhir menjadi penyebab utama berkurangnya populasi penyu di sepanjang Pantai Paloh. Sebab, untuk mendapatkan telur-telur itu para pemburu tidak segan-segan membantai induk penyu.
Berdasarkan penelusuran di Desa Temajuk, didapati satu induk penyu berusia sekitar 30 tahun yang mati mengenaskan akibat pembantaian. Perbuatan sadis itu diduga kuat bukan baru sekali terjadi, tetapi telah berlangsung bertahun-tahun.
“Mereka (pemburu) tidak sabar menunggu telur keluar, mereka lantas membunuh dan membedah induk penyu untuk mendapatkan telurnya,” kata Kepala Desa Temajuk Mulyadi.
Telur-telur penyu dari Paloh itu dijual dan diselundupkan ke Distrik Sematan, Malaysia, melalui pintu perbatasan di Temajuk-Telok Melano yang hanya berjarak 3 km atau sekitar 30 menit perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari Desa Temajuk.
Para penyelundup bisa leluasa membawa dagangan mereka karena minimnya penjagaan. Di pintu perlintasan tradisional itu hanya terdapat satu pos polisi Malaysia, sedangkan di sisi Indonesia tidak ada penjagaan sama sekali.
Berbekal hubungan kekerabatan dan saling mengenal satu sama lain, warga kedua wilayah yang berbeda negara itu bebas keluar-masuk melalui pintu perlintasan tersebut setiap hari. Tidak terkecuali para penyelundup telur penyu.
“Pemeriksaan ketat hanya diberlakukan jika membawa barang-barang dari Malaysia, tapi kalau memasukkan barang dari wilayah kita, tidak terlalu ketat,” ujar Asman.
Perburuan dan penyelundupan telur penyu di Paloh berlangsung secara sistematis dan terorganisasi karena dilakukan sebuah sindikat yang melibatkan aparat balai konservasi dan sumber daya alam (BKSDA) setempat, seorang petugas pengawas yang seharusnya menjaga dan melindungi habitat penyu dari kepunahan.
“Pencurian dan penjualan telur penyu di sini dilakukan orang-orangnya Latief. Mereka itu bukannya mengawasi dan menyelamatkan penyu, melainkan justru menjarah telur-telurnya. Penangkaran yang mereka buat juga hanya kamuflase karena telurnya banyak yang dijual,” ungkap Trino Junaidi, 34, warga Desa Sebubus, Kecamatan Paloh.
Tertuduh Latief tidak menampik tudingan mantan pemburu telur penyu itu. Ia beralasan penjualan telur tersebut untuk menggaji lima relawan yang direkrutnya sebagai petugas pengawas.
“Sebagian telur memang ada yang dijual guna membayar gaji mereka, Rp300 untuk setiap butir telur yang akan ditangkarkan,” kata petugas honorer BKSDA tersebut. (Aries Munandar)
Penyu Enggan Mampir lagi di Sambas
MALAM sepi yang menyelimuti Pantai Tanjung Sungaibelacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), membuat kawasan itu seperti tidak berpenghuni.
Hanya Laut Natuna dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus menyusup di tengah remang cahaya bulan. Bertambah kencang hempasan, bertambah jelas pula sosok seekor penyu hijau yang merayap ke bibir pantai. Ia menyeret tubuh tambunnya dan terseok-terseok menuju pinggiran sejauh 50 meter dari pesisir.
Sampai di lokasi tujuan, satwa yang dilindungi ini mulai menggali pasir dan memulai ritual malamnya. Bertelur. Satu malam, ada sekitar 50 penyu betina mendarat di pantai tersebut. Setiap induk biasanya mengeluarkan 114 butir sekali bertelur. “Mei-Juli merupakan puncak musim penyu bertelur,” jelas staf pemantau habitat penyu WWF Indonesia Kalbar Dwi Suprapti, dua pekan lalu.
Selama periode tersebut, penyu-penyu itu mampu bertelur 7-8 kali dengan interval waktu setiap dua minggu sekali. Selanjutnya 3-5 tahun kemudian mereka akan kembali untuk melakukan siklus peneluran yang sama.
Dua jam berlalu, namun peneluran belum berakhir. Sejurus kemudian, beberapa personel WWF dan aparat keamanan dengan sigap menggali kembali sarang untuk memindahkan telur penyu ke lokasi yang aman.
Mereka harus bergerak cepat dan tepat karena berkejaran waktu dengan para pencuri telur yang mengintai dari kejauhan.
“Harapan hidup penyu di alam bebas sangat rendah, yakni satu berbanding 1.000 tetasan. Ancaman terbesarnya berasal dari hewan predator, faktor lingkungan, dan aktivitas perburuan oleh manusia,” kata Dwi.
Tanjung Sungaibelacan merupakan salah satu wilayah pantai di Kecamatan Paloh yang menjadi habitat alam penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricate) di Kalbar.
Pantai di sepanjang kecamatan itu landai dan berombak relatif tenang. Kondisi tersebut menjadikannya surga bagi perkembangbiakan satwa langka tersebut.
Namun, kian hari keberadaan penyu laut semakin tergusur dan terancam karena kerakusan manusia. Dari sekitar 63 km panjang garis pantai di Paloh, hanya sekitar 5,9 km yang kini masih banyak dijumpai penyu.
“Dahulu kalau sekadar 20-30 sarang (telur) penyu pasti ada. Tapi sejak 5-6 tahun terakhir untuk mendapatkan satu sarang pun susah,” kata Sekretaris Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Asman.
Perburuan telur yang semakin marak dalam satu dasawarsa terakhir menjadi penyebab utama berkurangnya populasi penyu di sepanjang Pantai Paloh. Sebab, untuk mendapatkan telur-telur itu para pemburu tidak segan-segan membantai induk penyu.
Berdasarkan penelusuran di Desa Temajuk, didapati satu induk penyu berusia sekitar 30 tahun yang mati mengenaskan akibat pembantaian. Perbuatan sadis itu diduga kuat bukan baru sekali terjadi, tetapi telah berlangsung bertahun-tahun.
“Mereka (pemburu) tidak sabar menunggu telur keluar, mereka lantas membunuh dan membedah induk penyu untuk mendapatkan telurnya,” kata Kepala Desa Temajuk Mulyadi.
Telur-telur penyu dari Paloh itu dijual dan diselundupkan ke Distrik Sematan, Malaysia, melalui pintu perbatasan di Temajuk-Telok Melano yang hanya berjarak 3 km atau sekitar 30 menit perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari Desa Temajuk.
Para penyelundup bisa leluasa membawa dagangan mereka karena minimnya penjagaan. Di pintu perlintasan tradisional itu hanya terdapat satu pos polisi Malaysia, sedangkan di sisi Indonesia tidak ada penjagaan sama sekali.
Berbekal hubungan kekerabatan dan saling mengenal satu sama lain, warga kedua wilayah yang berbeda negara itu bebas keluar-masuk melalui pintu perlintasan tersebut setiap hari. Tidak terkecuali para penyelundup telur penyu.
“Pemeriksaan ketat hanya diberlakukan jika membawa barang-barang dari Malaysia, tapi kalau memasukkan barang dari wilayah kita, tidak terlalu ketat,” ujar Asman.
Perburuan dan penyelundupan telur penyu di Paloh berlangsung secara sistematis dan terorganisasi karena dilakukan sebuah sindikat yang melibatkan aparat balai konservasi dan sumber daya alam (BKSDA) setempat, seorang petugas pengawas yang seharusnya menjaga dan melindungi habitat penyu dari kepunahan.
“Pencurian dan penjualan telur penyu di sini dilakukan orang-orangnya Latief. Mereka itu bukannya mengawasi dan menyelamatkan penyu, melainkan justru menjarah telur-telurnya. Penangkaran yang mereka buat juga hanya kamuflase karena telurnya banyak yang dijual,” ungkap Trino Junaidi, 34, warga Desa Sebubus, Kecamatan Paloh.
Tertuduh Latief tidak menampik tudingan mantan pemburu telur penyu itu. Ia beralasan penjualan telur tersebut untuk menggaji lima relawan yang direkrutnya sebagai petugas pengawas.
“Sebagian telur memang ada yang dijual guna membayar gaji mereka, Rp300 untuk setiap butir telur yang akan ditangkarkan,” kata petugas honorer BKSDA tersebut. (Aries Munandar)
1:43 PM
Queen Victoria Market sebenarnya pasar rakyat. Namun, situasinya begitu kontras dengan pasar rakyat di Indonesia termasuk di Kota Pontianak seperti pasar Flamboyan, pasar Mawar ataupun pasar lain di Kota Khatulistiwa.
Dengan pengelolaan yang baik dan ramah lingkungan, Queen Victoria Market terlihat rapi dan bersih. Tak ada bau amis saat berjalan di lapak daging atau tak ada lantai becek saat menelusuri lapak sayur-mayur.
Para turis biasanya juga menyempatkan diri mampir di pasar ini. Mereka mengabadikan kesibukan di pasar yang buka pada Selasa dan Kamis pada pukul 06.00-02.00, serta Jumat pukul 06.00-17.00. Pasar ini juga buka pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.
James Richards, seorang pedagang di pasar tersebut mengatakan mereka menjaga komitmen untuk meminimalisir penggunaan kantong plastik. "Sedapat mungkin kami menghindari penggunaan kantong plastik. Upaya ini bisa berhasil jika pembeli juga punya niat yang sama," kata dia.
Tak hanya menggunakan kantong ramah lingkungan, pengelola pasar juga mengolah sampah organik, sisa lemak dan tulang, jeroan ikan dikumpulkan dan diproses untuk pupuk. Bekas minyak goreng pun diolah menjadi biodiesel.
Pada April 2003, Queen Victoria Market, memasang 1.328 keping panel surya yang mencakup sepertiga atap pasar. Pada saat itu, proyek ini merupakan yang terbesar di perkotaan di belahan bumi selatan. Sistem ini bisa menghasilkan 252.000 kilowatt listrik setiap tahun, sehingga setara untuk memenuhi kebutuhan listrik 46 rumah dalam setahun.
Pengelola juga menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Air tersebut diolah dan selanjutnya digunakan untuk menyiram toilet umum di Queen Street.
Proyek ini mengurangi konsumsi air minum pasar sekitar 25 persen dan menghemat sekitar enam kolam renang olimpiade air setiap tahun.
Sejarah pasar ini cukup panjang, menurut berbagai literature Queen Victoria Market dibangun sejak 1878. Pengelola juga menyarankan sekolah mengajak anak didiknya berbelanja di pasar tersebut.
Sehingga siswa mendapatkan pengalaman positif dari kunjungan tersebut. Para pengunjung siswa yang diorganisir diberikan diskon khusus. (Stefanus Akim)
Indahnya Pasar Rakyat Melbourne
Queen Victoria Market sebenarnya pasar rakyat. Namun, situasinya begitu kontras dengan pasar rakyat di Indonesia termasuk di Kota Pontianak seperti pasar Flamboyan, pasar Mawar ataupun pasar lain di Kota Khatulistiwa.
Dengan pengelolaan yang baik dan ramah lingkungan, Queen Victoria Market terlihat rapi dan bersih. Tak ada bau amis saat berjalan di lapak daging atau tak ada lantai becek saat menelusuri lapak sayur-mayur.
Para turis biasanya juga menyempatkan diri mampir di pasar ini. Mereka mengabadikan kesibukan di pasar yang buka pada Selasa dan Kamis pada pukul 06.00-02.00, serta Jumat pukul 06.00-17.00. Pasar ini juga buka pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.
James Richards, seorang pedagang di pasar tersebut mengatakan mereka menjaga komitmen untuk meminimalisir penggunaan kantong plastik. "Sedapat mungkin kami menghindari penggunaan kantong plastik. Upaya ini bisa berhasil jika pembeli juga punya niat yang sama," kata dia.
Tak hanya menggunakan kantong ramah lingkungan, pengelola pasar juga mengolah sampah organik, sisa lemak dan tulang, jeroan ikan dikumpulkan dan diproses untuk pupuk. Bekas minyak goreng pun diolah menjadi biodiesel.
Pada April 2003, Queen Victoria Market, memasang 1.328 keping panel surya yang mencakup sepertiga atap pasar. Pada saat itu, proyek ini merupakan yang terbesar di perkotaan di belahan bumi selatan. Sistem ini bisa menghasilkan 252.000 kilowatt listrik setiap tahun, sehingga setara untuk memenuhi kebutuhan listrik 46 rumah dalam setahun.
Pengelola juga menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Air tersebut diolah dan selanjutnya digunakan untuk menyiram toilet umum di Queen Street.
Proyek ini mengurangi konsumsi air minum pasar sekitar 25 persen dan menghemat sekitar enam kolam renang olimpiade air setiap tahun.
Sejarah pasar ini cukup panjang, menurut berbagai literature Queen Victoria Market dibangun sejak 1878. Pengelola juga menyarankan sekolah mengajak anak didiknya berbelanja di pasar tersebut.
Sehingga siswa mendapatkan pengalaman positif dari kunjungan tersebut. Para pengunjung siswa yang diorganisir diberikan diskon khusus. (Stefanus Akim)
11:09 PM
Sehari menjelang Royal Wedding
Inggris tersulap kemegahan Royal Wedding 2011. Pasangan Catherine Elizabeth Middleton dan William Arthur Philip Louis akan mengakhiri masa lajangnya esok hari. London pun menjadi pusat perhatian dunia.
Sehari menjelang pernikahan akbar abad 21 ini, hampir setiap sudut kota London terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Ratusan turis dari dalam maupun luar UK berdatangan sejak tiga hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Mereka berharap dapat menjadi saksi hidup pernikahan salah satu garis keturunan bangsawan paling elit Inggris saat ini.
Westminter Abbey, tempat dimana pasangan ini akan dinobatkan menjadi suami istri telah dipadati manusia sejak H-2. Tenda – tenda mungil telah didirikan di sekitar gereja khusus acara keluarga kerajaan tersebut.
Beribu penonton the Royal Wedding terlihat antusias meski harus berhadapan dengan cuaca dingin kota London. Suhu yang sejak beberapa hari lalu mendadak turun tidak menghalangi keinginan warga untuk menyaksikan salah satu sejarah terbesar abad ini, pernikahan terbesar selama 30 tahun belakangan. Sebagian dari mereka bahkan datang dari bagian benua lain, seperti Kanada dan California.
Mengantisipasi membludaknya jumlah pengunjung pada tanggal 29 April esok, pemerintah kota London telah mempersiapkan penjagaan ketat. Pasukan berkuda dan sejumlah petugas keamanan telah ditempatkan di lokasi – lokasi keramaian. Beberapa lokasi dan jalur transportasi mulai ditutup sejak H-1.
Fasilitas- fasilitas umum tidak luput dari perhatian pemerintah. Toilet umum di sekitar spot keramaian telah dipersiapkan dengan cermat, terutama bagi para pengunjung yang menginap di tenda – tenda. Sedangkan transportasi publik masih akan beroperasi pada hari H, hanya saja beberapa jalur akan dialihkan melalui jalur alternatif.
Selain menyiapkan lokasi sepanjang jalur Istana Buckingham – Westminter Abbey, beberapa layar lebar juga telah disiapkan untuk menyiarkan secara langsung acara sakral tersebut, diantaranya ditempatkan di Hyde Park dan Trafalgar Square. Diperkirakan 2 miliar pasang mata akan menyaksikan pernikahan terbesar keluarga kerajaan selama 30 tahun terakhir ini. (Pipiew)
Sehari menjelang pernikahan akbar abad 21 ini, hampir setiap sudut kota London terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Ratusan turis dari dalam maupun luar UK berdatangan sejak tiga hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Mereka berharap dapat menjadi saksi hidup pernikahan salah satu garis keturunan bangsawan paling elit Inggris saat ini.
Westminter Abbey, tempat dimana pasangan ini akan dinobatkan menjadi suami istri telah dipadati manusia sejak H-2. Tenda – tenda mungil telah didirikan di sekitar gereja khusus acara keluarga kerajaan tersebut.
Beribu penonton the Royal Wedding terlihat antusias meski harus berhadapan dengan cuaca dingin kota London. Suhu yang sejak beberapa hari lalu mendadak turun tidak menghalangi keinginan warga untuk menyaksikan salah satu sejarah terbesar abad ini, pernikahan terbesar selama 30 tahun belakangan. Sebagian dari mereka bahkan datang dari bagian benua lain, seperti Kanada dan California.
Mengantisipasi membludaknya jumlah pengunjung pada tanggal 29 April esok, pemerintah kota London telah mempersiapkan penjagaan ketat. Pasukan berkuda dan sejumlah petugas keamanan telah ditempatkan di lokasi – lokasi keramaian. Beberapa lokasi dan jalur transportasi mulai ditutup sejak H-1.
Fasilitas- fasilitas umum tidak luput dari perhatian pemerintah. Toilet umum di sekitar spot keramaian telah dipersiapkan dengan cermat, terutama bagi para pengunjung yang menginap di tenda – tenda. Sedangkan transportasi publik masih akan beroperasi pada hari H, hanya saja beberapa jalur akan dialihkan melalui jalur alternatif.
Selain menyiapkan lokasi sepanjang jalur Istana Buckingham – Westminter Abbey, beberapa layar lebar juga telah disiapkan untuk menyiarkan secara langsung acara sakral tersebut, diantaranya ditempatkan di Hyde Park dan Trafalgar Square. Diperkirakan 2 miliar pasang mata akan menyaksikan pernikahan terbesar keluarga kerajaan selama 30 tahun terakhir ini. (Pipiew)
1:57 AM
Bila anda masih memercayai Google sebagai tempat mengadu paling ampuh, anda pasti mengamini judul tulisan ini. Hampir lima tahun lalu, saya dan beberapa teman blogger geleng-geleng kepala. Kami kaget melihat hasil pencarian tentang "Pontianak" di Google. Untuk kata kunci Pontianak, yang menempati halaman pertama hampir tak mengalami pergeseran dari dulu hingga kini. Isinya, tak jauh-jauh dari hantu (baca: Kuntilanak). Bagi kaskuser, pertamax adalah kebanggaan. Bagi online marketer, page one di Google berarti uang. Namun bagi Pontianak, halaman pertama Google adalah sebuah ketakutan.
Dengan bergiat memperbanyak posting yang positif tentang Pontianak, saya berharap akan tergesernya konten “beraroma kamboja” dari halaman pertama Google. Karena bagi Google, content is king. Tulisan ini menjadi salah satu ikhtiarnya. Nah, berikut nyala unik Pontianak yang dapat mengukir kesan di hati. Syukurlah bila ada niat berwisata atau malah, balek kampong!
WARKOP atawa Warung Kopi. Sangat mudah menemukannya di Pontianak. Terutama sepanjang jalan Gajahmada dan Tanjungpura. Kawasan ini merupakan surga kuliner. Bila ke Pontianak, sempatkan anda mengitari jalan ini di waktu malam. Meski belum dikemas secara maksimal, namun untuk wisata kuliner, di sinilah tempatnya. Dari masakan negeri Paman Sam, hingga Chinese Food tersaji. Dari restoran Padang hingga Lele Lamongan ada di sini. Seorang teman berkata, bila ingin berwisata (dan berbisnis) kuliner, Pontianaklah tempatnya!
Ups, hampir lupa, bila ingin ngopi, coba pesan Kopi Pancong, menu andalan warkop sejak dulu. Kopi yang isinya setengah gelas. Tambah Amboiii bila ditemani pisang goreng srikaya di Warkop Winny. Mertua lewatpun tak dipandang. :)
Hampir semua penduduk Pontianak, pasti pernah ngopi di warkop. Di warkoplah, demokrasi menunjukkan wujud. Siapapun bebas bicara apapun. Tak ada dusta. Tak ada amarah. Semua terbuka.
SUNGAI KAPUAS, Tugu Khatulistiwa, Kraton Kadariah, Masjid Jami’ merupakat paket komplit wisata Pontianak. One stop tourism! Setengah jam dari bandara Supadio anda tiba di Sungai Kapuas. Daya pikatnya akan lebih terasa bila anda menyusurinya dengan perahu yang mangkal di Serasan. Menikmati eksotisme sungai terpanjang di Indonesia. Sungai yang dahulunya menjadi transportasi utama penduduk lokal. Kemudian sempatkan singgah ke Kraton Kadariah yang persis berhadapan dengan Masjid Jami’. Jaraknya berdekatan. Kedua tempat ini masih dipertahankan orisinalitasnya. Asal muasal Pontianak terletak di sini.
Sayangnya lagi-lagi, ini belum “dijual” dan dikemas secara maksimal. Belum ada paket wisata yang berani menawarkan wisata sejarah menyusuri sungai Kapuas dan rehat sejenak di Tugu Khatulistiwa. Terkesan bila Sungai Kapuas masih menjadi dapur, bukan terasnya Pontianak. Setidaknya bila berkaca dari tetangga Pontianak: Kuching, Malaysia!
Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Tugu Khatulistiwa. Titik nol derajat. Setiap tanggal 21 Maret dan 23 September, bayangan tubuh akan menghilang bila tepat berdiri di titik kulminasinya. Matahari tepat berada di titik tersebut. Tugu Khatulistiwa menjadi simbolnya. Menarik bukan? Keunikan yang memang tidak hanya milik Pontianak, tapi untuk sebuah ibukota, Pontianak satu-satunya ibukota di dunia yang dilewati garis khatulistiwa. Pada beberapa tahun terakhir, peringatan kulminasi dirangkai dengan even budaya.
Masih ada even menarik lainnya yang layak menjadi alasan bila anda ke Pontianak. Gawai Dayak, Cap Go Meh, Festival Meriam Karbit, salah tiganya. Menarik, karena benar-benar unik dengan sentuhan khas Pontianak.
Bila mau sedikit membuka mata, Pontianak sungguh mewakili gambaran bangsa: raksasa tidur! Berbenah diri dan segera bangun tentunya menjadi jawaban dini. Belum terlambat untuk memulai segalanya. Dan, akhirnya kelak, Pontianak pun menjelma menjadi kota 'bidadari', menggantikan 'kuntilanak', yang nangkring di halaman pertama Google. (Yaser)
Pontianak, (Bukan) Kota Kuntilanak!
Bila anda masih memercayai Google sebagai tempat mengadu paling ampuh, anda pasti mengamini judul tulisan ini. Hampir lima tahun lalu, saya dan beberapa teman blogger geleng-geleng kepala. Kami kaget melihat hasil pencarian tentang "Pontianak" di Google. Untuk kata kunci Pontianak, yang menempati halaman pertama hampir tak mengalami pergeseran dari dulu hingga kini. Isinya, tak jauh-jauh dari hantu (baca: Kuntilanak). Bagi kaskuser, pertamax adalah kebanggaan. Bagi online marketer, page one di Google berarti uang. Namun bagi Pontianak, halaman pertama Google adalah sebuah ketakutan.
Dengan bergiat memperbanyak posting yang positif tentang Pontianak, saya berharap akan tergesernya konten “beraroma kamboja” dari halaman pertama Google. Karena bagi Google, content is king. Tulisan ini menjadi salah satu ikhtiarnya. Nah, berikut nyala unik Pontianak yang dapat mengukir kesan di hati. Syukurlah bila ada niat berwisata atau malah, balek kampong!
WARKOP atawa Warung Kopi. Sangat mudah menemukannya di Pontianak. Terutama sepanjang jalan Gajahmada dan Tanjungpura. Kawasan ini merupakan surga kuliner. Bila ke Pontianak, sempatkan anda mengitari jalan ini di waktu malam. Meski belum dikemas secara maksimal, namun untuk wisata kuliner, di sinilah tempatnya. Dari masakan negeri Paman Sam, hingga Chinese Food tersaji. Dari restoran Padang hingga Lele Lamongan ada di sini. Seorang teman berkata, bila ingin berwisata (dan berbisnis) kuliner, Pontianaklah tempatnya!
Ups, hampir lupa, bila ingin ngopi, coba pesan Kopi Pancong, menu andalan warkop sejak dulu. Kopi yang isinya setengah gelas. Tambah Amboiii bila ditemani pisang goreng srikaya di Warkop Winny. Mertua lewatpun tak dipandang. :)
Hampir semua penduduk Pontianak, pasti pernah ngopi di warkop. Di warkoplah, demokrasi menunjukkan wujud. Siapapun bebas bicara apapun. Tak ada dusta. Tak ada amarah. Semua terbuka.
SUNGAI KAPUAS, Tugu Khatulistiwa, Kraton Kadariah, Masjid Jami’ merupakat paket komplit wisata Pontianak. One stop tourism! Setengah jam dari bandara Supadio anda tiba di Sungai Kapuas. Daya pikatnya akan lebih terasa bila anda menyusurinya dengan perahu yang mangkal di Serasan. Menikmati eksotisme sungai terpanjang di Indonesia. Sungai yang dahulunya menjadi transportasi utama penduduk lokal. Kemudian sempatkan singgah ke Kraton Kadariah yang persis berhadapan dengan Masjid Jami’. Jaraknya berdekatan. Kedua tempat ini masih dipertahankan orisinalitasnya. Asal muasal Pontianak terletak di sini.
Sayangnya lagi-lagi, ini belum “dijual” dan dikemas secara maksimal. Belum ada paket wisata yang berani menawarkan wisata sejarah menyusuri sungai Kapuas dan rehat sejenak di Tugu Khatulistiwa. Terkesan bila Sungai Kapuas masih menjadi dapur, bukan terasnya Pontianak. Setidaknya bila berkaca dari tetangga Pontianak: Kuching, Malaysia!
Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Tugu Khatulistiwa. Titik nol derajat. Setiap tanggal 21 Maret dan 23 September, bayangan tubuh akan menghilang bila tepat berdiri di titik kulminasinya. Matahari tepat berada di titik tersebut. Tugu Khatulistiwa menjadi simbolnya. Menarik bukan? Keunikan yang memang tidak hanya milik Pontianak, tapi untuk sebuah ibukota, Pontianak satu-satunya ibukota di dunia yang dilewati garis khatulistiwa. Pada beberapa tahun terakhir, peringatan kulminasi dirangkai dengan even budaya.
Masih ada even menarik lainnya yang layak menjadi alasan bila anda ke Pontianak. Gawai Dayak, Cap Go Meh, Festival Meriam Karbit, salah tiganya. Menarik, karena benar-benar unik dengan sentuhan khas Pontianak.
Bila mau sedikit membuka mata, Pontianak sungguh mewakili gambaran bangsa: raksasa tidur! Berbenah diri dan segera bangun tentunya menjadi jawaban dini. Belum terlambat untuk memulai segalanya. Dan, akhirnya kelak, Pontianak pun menjelma menjadi kota 'bidadari', menggantikan 'kuntilanak', yang nangkring di halaman pertama Google. (Yaser)
1:04 PM
Harapan di Akhir Penantian Panjang
Burhanuddin A Rasyid semringah. Bupati Sambas, Kalimantan Barat, itu tidak henti mengembangkan senyumnya kepada tetamu yang datang.
Bangga dan bahagia menyelimuti perasaan bupati yang telah memimpin Sambas selama dua periode itu.
“Saya selaku bupati beserta masyarakat Sambas sangat bersyukur pada hari ini. Apa yang kami tunggu-tunggu dan perjuangkan selama ini akhirnya bisa terwujud,” kata Burhanuddin.
Hari itu, tepat di awal 2011, Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, resmi beroperasi. Sebuah seremoni digelar di PPLB Biawak, Serawak, Malaysia, yang bersebelahan dengan PPLB Aruk, menandai peresmian kedua pintu masuk ke kedua wilayah beda negara tersebut.
Pembukaan PPLB yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Sambas itu adalah buah perjuangan panjang. Butuh waktu puluhan tahun untuk mewujudkan impian tersebut. Bahkan, agenda peresmian yang dijadwalkan sejak dua tahun lalu selalu tertunda karena berbagai kendala.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat Fathan A Rasyid menyatakan pembukaan PPLB Aruk telah dirintis sejak kesepakatan dalam Forum Kerja Sama Sosial-Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) pada 1983.
Ada dua pintu masuk resmi yang disepakati untuk dibuka, yakni Entikong, Kabupaten Sanggau-Tebedu, Serawak, dan Aruk, Sambas-Biawak, Serawak. PPLB Entikong-Tebedu diresmikan pada 1992 dan menjadi pintu resmi pertama di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat.
“Dalam tempo 18 tahun setelah peresmian border (PPLB) di Entikong, baru dibuka satu lagi PPLB baru, yakni di Aruk,” kata Fathan.
Ia mengungkapkan banyak faktor yang menjadi kendala sehingga PPLB Aruk baru bisa diresmikan pada awal tahun ini. Di antaranya menyangkut persoalan bujet dan prasarana serta personel yang harus disiapkan kedua pihak.
“Ada sistem teknologi informasi, infrastruktur, dan regulasi yang semuanya harus disiapkan secara komprehensif,” ungkap Fathan.
Jadi kubangan
Pembukaan PPLB Aruk memberikan secercah harapan baru dalam mengatasi ketertinggalan dan keterisolasian wilayah. Optimisme itu muncul karena akses perdagangan dan jasa dari kedua negara serumpun tersebut kini semakin terbuka.
Berbagai program pembangunan pun telah dilancarkan pemerintah, untuk menyongsong geliat perekonomian di wilayah perbatasan ini. Di antaranya, penyiapan sumber daya manusia melalui penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan.
“Dahulu di Aruk hanya ada satu sekolah dasar. Kini, sudah ada SMA dan SMK. Kualitas pendidikan di (Kecamatan) Sajingan Besar juga melonjak dari rangking 19 menjadi rangking empat se-Kabupaten Sambas,” jelas Burhanuddin.
Kendati demikian, masih banyak tugas yang harus diselesaikan pemerintah untuk mewujudkan harapan masyarakat itu. Sebutlah soal jalan akses ke Aruk yang saat ini baru sekitar 8 kilometer beraspal mulus. Selebihnya berlubang dan masih berupa jalan tanah merah.
Kondisi itu dapat mengganggu kelancaran arus transportasi karena beberapa ruas jalan berubah menjadi kubangan di saat musim penghujan. Jika sudah begitu, hanya kendaraan bermotor roda empat bergardan ganda yang bisa menuju lokasi perbatasan.
Kondisi jalan rusak tidak hanya di sebelah Indonesia, tetapi juga di sebelah Malaysia. Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, terdapat sekitar 40 kilometer jalan dari PPLB Biawak menuju Kota Kuching yang becek dan berlubang. Namun, proyek perbaikan jalan di Malaysia sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu.
Sokongan ADB
Burhanuddin memastikan kondisi jalan di wilayahnya juga akan segera diperbaiki mulai bulan depan. Proyek senilai Rp350 miliar itu ditargetkan rampung pada pertengahan tahun depan.
“Kalau saya tidak keliru, dananya dari Asian Develepoment Bank (ADB). Proyeknya sudah ditenderkan pemerintah pusat,” ujar mantan penyuluh pertanian itu.
PPLB Aruk sebelumnya hanya berupa pintu pelintasan tradisional. Hanya warga setempat dan pemilik tanda masuk khusus yang dibebaskan keluar-masuk melalui pelintasan ini. Namun, jangkauan bepergian mereka dibatasi di sekitar wilayah perbatasan karena tanda masuk itu tidak berlaku sebagai paspor.
Untuk masuk dengan mengenakan paspor, mereka, seperti warga Kalbar lainnya, harus melalui PPLB Entikong. Butuh waktu seharian untuk menempuh perjalanan dari Aruk ke Entikong dengan kendaraan bermotor.
“Selama ini setiap hari rata-rata ada 30 orang dari wilayah Indonesia yang melintas di sini, dengan mengunakan pas (tanda masuk). Dari Malaysia, sekitar 10 orang,” kata Wakil Kepala Kantor Pelayanan Imigrasi Biawak Mauris Dapot.
Pembukaan PPLB Aruk sedia nya akan dilakukan bersama PPLB Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. Namun, PPLB Badau baru bisa diresmikan pada tahun depan karena masih menunggu kesiapan pihak Malaysia.
“Ada masalah dalam pengerjaan PPLB mereka. Namun, sudah kami (beri) deadline, Februari 2012 pengerjaannya harus selesai,” ungkap Fathan.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyatakan pembukaan pintu masuk resmi ke Malaysia juga memiliki nilai kemanusiaan tinggi. Banyak warga di kedua perbatasan yang masih bersaudara atau memiliki ikatan kekerabatan. (12 Januari 2011, ARIES BBC)
Bangga dan bahagia menyelimuti perasaan bupati yang telah memimpin Sambas selama dua periode itu.
“Saya selaku bupati beserta masyarakat Sambas sangat bersyukur pada hari ini. Apa yang kami tunggu-tunggu dan perjuangkan selama ini akhirnya bisa terwujud,” kata Burhanuddin.
Hari itu, tepat di awal 2011, Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, resmi beroperasi. Sebuah seremoni digelar di PPLB Biawak, Serawak, Malaysia, yang bersebelahan dengan PPLB Aruk, menandai peresmian kedua pintu masuk ke kedua wilayah beda negara tersebut.
Pembukaan PPLB yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Sambas itu adalah buah perjuangan panjang. Butuh waktu puluhan tahun untuk mewujudkan impian tersebut. Bahkan, agenda peresmian yang dijadwalkan sejak dua tahun lalu selalu tertunda karena berbagai kendala.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat Fathan A Rasyid menyatakan pembukaan PPLB Aruk telah dirintis sejak kesepakatan dalam Forum Kerja Sama Sosial-Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) pada 1983.
Ada dua pintu masuk resmi yang disepakati untuk dibuka, yakni Entikong, Kabupaten Sanggau-Tebedu, Serawak, dan Aruk, Sambas-Biawak, Serawak. PPLB Entikong-Tebedu diresmikan pada 1992 dan menjadi pintu resmi pertama di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat.
“Dalam tempo 18 tahun setelah peresmian border (PPLB) di Entikong, baru dibuka satu lagi PPLB baru, yakni di Aruk,” kata Fathan.
Ia mengungkapkan banyak faktor yang menjadi kendala sehingga PPLB Aruk baru bisa diresmikan pada awal tahun ini. Di antaranya menyangkut persoalan bujet dan prasarana serta personel yang harus disiapkan kedua pihak.
“Ada sistem teknologi informasi, infrastruktur, dan regulasi yang semuanya harus disiapkan secara komprehensif,” ungkap Fathan.
Jadi kubangan
Pembukaan PPLB Aruk memberikan secercah harapan baru dalam mengatasi ketertinggalan dan keterisolasian wilayah. Optimisme itu muncul karena akses perdagangan dan jasa dari kedua negara serumpun tersebut kini semakin terbuka.
Berbagai program pembangunan pun telah dilancarkan pemerintah, untuk menyongsong geliat perekonomian di wilayah perbatasan ini. Di antaranya, penyiapan sumber daya manusia melalui penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan.
“Dahulu di Aruk hanya ada satu sekolah dasar. Kini, sudah ada SMA dan SMK. Kualitas pendidikan di (Kecamatan) Sajingan Besar juga melonjak dari rangking 19 menjadi rangking empat se-Kabupaten Sambas,” jelas Burhanuddin.
Kendati demikian, masih banyak tugas yang harus diselesaikan pemerintah untuk mewujudkan harapan masyarakat itu. Sebutlah soal jalan akses ke Aruk yang saat ini baru sekitar 8 kilometer beraspal mulus. Selebihnya berlubang dan masih berupa jalan tanah merah.
Kondisi itu dapat mengganggu kelancaran arus transportasi karena beberapa ruas jalan berubah menjadi kubangan di saat musim penghujan. Jika sudah begitu, hanya kendaraan bermotor roda empat bergardan ganda yang bisa menuju lokasi perbatasan.
Kondisi jalan rusak tidak hanya di sebelah Indonesia, tetapi juga di sebelah Malaysia. Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, terdapat sekitar 40 kilometer jalan dari PPLB Biawak menuju Kota Kuching yang becek dan berlubang. Namun, proyek perbaikan jalan di Malaysia sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu.
Sokongan ADB
Burhanuddin memastikan kondisi jalan di wilayahnya juga akan segera diperbaiki mulai bulan depan. Proyek senilai Rp350 miliar itu ditargetkan rampung pada pertengahan tahun depan.
“Kalau saya tidak keliru, dananya dari Asian Develepoment Bank (ADB). Proyeknya sudah ditenderkan pemerintah pusat,” ujar mantan penyuluh pertanian itu.
PPLB Aruk sebelumnya hanya berupa pintu pelintasan tradisional. Hanya warga setempat dan pemilik tanda masuk khusus yang dibebaskan keluar-masuk melalui pelintasan ini. Namun, jangkauan bepergian mereka dibatasi di sekitar wilayah perbatasan karena tanda masuk itu tidak berlaku sebagai paspor.
Untuk masuk dengan mengenakan paspor, mereka, seperti warga Kalbar lainnya, harus melalui PPLB Entikong. Butuh waktu seharian untuk menempuh perjalanan dari Aruk ke Entikong dengan kendaraan bermotor.
“Selama ini setiap hari rata-rata ada 30 orang dari wilayah Indonesia yang melintas di sini, dengan mengunakan pas (tanda masuk). Dari Malaysia, sekitar 10 orang,” kata Wakil Kepala Kantor Pelayanan Imigrasi Biawak Mauris Dapot.
Pembukaan PPLB Aruk sedia nya akan dilakukan bersama PPLB Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. Namun, PPLB Badau baru bisa diresmikan pada tahun depan karena masih menunggu kesiapan pihak Malaysia.
“Ada masalah dalam pengerjaan PPLB mereka. Namun, sudah kami (beri) deadline, Februari 2012 pengerjaannya harus selesai,” ungkap Fathan.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyatakan pembukaan pintu masuk resmi ke Malaysia juga memiliki nilai kemanusiaan tinggi. Banyak warga di kedua perbatasan yang masih bersaudara atau memiliki ikatan kekerabatan. (12 Januari 2011, ARIES BBC)
2:11 PM
Saya ingin Ritchie bercerita tentang hidupnya sekarang, pengalamannya kepada sisa-sisa saudara-maranya yang hidup di sisa hutan, di gunung-gunung (Gunung Palung, Betung Karihun, Danau Sentarum, Bukit Raya dan Bukit Baka dan lain sebagainya) yang tak lagi perawan, sepeti ketika nenek moyangnya mengembara menembus belantara, jauh sebelum pulau terbesar ketiga di dunia ini diiris-iris menjadi 3 negara oleh manusia.
Andai Saja Ritchie Bisa Bicara
(Catatan Lawatan Pariwisata ke Sarawak)
Oleh: A. Alexander Mering
Andai saja Ritchie bisa bicara, saya ingin sekali mengundangnya ke Pontianak. Mengajaknya bertemu beberpa pejabat dan penguasa yang kabupatennya masih ada hutan—kampung halaman Ritchie—sebelum ia diboyong seorang wartawan, puluhan tahun silam ke Sarawak.
Saya berhenti membidik. Mark, seorang turis dari Denmark bertanya pada saya, yang mana Ritchie?
“Yang mana ya, hmm.”
Ritchie memang tidak datang menemui kami pagi itu. Sejak kemarin dia menghilang ke dalam hutan, membiarkan saja Dahlia betina dan anak-anaknya dipotret turis. Sang turis berlalu, saya kembali memotret.
Tentu saja niat saya tak mungkin terlaksana. Karena, Ritchie hanyalah seekor orang utan (Pongo pygmaeus).
Walau dia telah menjadi ‘penguasa’ hutan Semegoh—yaitu kawasan cagar alam yang berjarak sekitar 24 km dari Bandar Kuching, Sarawak—tapi tetap saja dia tak mungkin saya undang ke Pontianak.
Ritchie bukan orang utan biasa, di hutan seluas sekitar 800 hektar itu dia adalah satu-satunya mamalia berbulu paling besar dan paling ditakuti binatang rimba.
Dia juga pejantan paling dominan dengan banyak betina. Keluarga Ritchie selalu membuat penasaran para turis manca negara yang datang sambil menghunus kamera.
Tapi saya bertanya-tanya, bagaimana Ritchie bisa menjadi ikon hutan negeri koloni James Brooke tersebut? Apa yang membuatnya begitu popular da dibuatkan ‘monumen’? Bahkan foto dan tampang rimbanya yang sama sekali tidak cakep itu tersebar di seantero Sarawak, diperbanyak dan dicetak di kertas tiket, di famflet, hingga jutaan lembar T-sirt- yang selalu saja dibeli para turis, termasuk para pejabat dari Pontianak yang datang ke Sarawak?
Sementara hidup orang utan di Kalimantan semakin berat. Dari 55.000 Orang utan di Indonesia, 1.330 hinggga 2.000 mendiami Taman Nasional Betung Kerihun. Kemudian di Taman Nasional Danau Sentarum 500, dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya diperkirakan 175, Rongga serta Parai berkisar 1.000. Hanya di Gunung Palung saja yang populasinya agak banyak, yaitu 2500. Ketika orang utan di Kalimantan Barat ini terancam punah, kelompok Ritchie pula malah makan-minum cukup dan mewah.
Saya terkenang nasib 20 orang utan di Pelang, 20 kilometer dari Kota Ketapang. Akhir tahun 2010 lalu, kelompok orang utan raib setelah tersudut oleh pembukaan perkebunan kelapa sawit.
“Hanya sekitar 5 ekor saja yang berhasil diselamatkan,” kata salah seorang aktivis Orang utan di Ketapang, yang minta namanya tidak disebutkan.
Hal tersebut dibenakarkan Ketua Yayasan Wadah Riset dan Informasi Kebudayaan (Warisan) Ketapang, Alexander Yan Sukanda. Camp Orang Utan miliknya yang dibangun Yan tahun 2007 lalu di Sungai Sentap juga turut digusur oleh perkebunan kelapa sawit.
Ohya, nama Ritchie melekat pada ‘raja Semegoh’ itu konon dalam rangka mengenang jasa seorang wartawan Sarawak bernama James Ritchie, yang membawa Ritchie ke pusat rehabilitasi tersebut sejak masih bayi.
Pusat itu pertama kali didirikan tahun 1975 lalu untuk merawat binatang liar yang sakit, terluka, yatim piatu, atau yang sebelumnya disimpan sebagai hewan peliharaan illegal sebelum kemudian dilepas kembali ke alam liar.
Kini kawasan ini juga berfungsi sebagai pusat penelitian satwa liar dan program penangkaran untuk spesies yang terancam punah. Semegoh juga telah menjadi sekolah alam untuk mendidik pengunjung dan masyarakat umum tentang pentingnya konservasi. Saat ini tak kurang dari 1.000 mamalia langka, burung dan reptil dari puluhan spesies yang berbeda tercatat disana. Keistimewaan tempat ini adalah karena menjadi tempat rehabilitasi orang utan.
Orang utan yang diselamatkan harus menjalani medical check up dan ditempatkan di kandang. Seperti halnya manusia muda, Orang utan muda juga diajari cara-cara bertahan hidup di habitatnya. Setiap mereka dibawa ke tempat-tempat yang cocok di hutan di mana mereka belajar memanjat pohon, berayunan di cabang dan memetik dedaunan hiju untuk. Biasanya dalam 2 sampai 4 tahun mereka sudah bisa mendiri dan boleh dilepaskan ke dalam Hutan Suaka sekitarnya. Kawanan orang utan ini biasanya menghabiskan sebagian besar waktu di sekitar hutan dan akan kembali ke pusat rehabilitasi saat jam makan tiba. Tapi bagi yang sudah mandiri selama musim buah biasanya mereka menghilang ke dalam hutan.
“Ini pertanda baik dan menunjukkan bahwa mereka beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru mereka,” terang seorang petugas cagar alam.
Tahap akhir dari proses rehabilitasi panjang ini adalah ketika orang utan ini akan menjadi warga beberapa Taman Nasional yang ada di Sarawak. Jika anda ingin melihat orang utan di Semogoh, waktu yang tepat adalah pagi pukul 9.00-10:00 dan 3,00-3,30 WIB saat keluarga orang utan makan.
Pagi itu saya bertemu tiga anak orang utan muda berayun di sela-sela cabang pohon, dikawal induknya. Keluarga orang utan itu berhenti persis di ujung jalan setapak, ketika seorang petugas muncul menenteng ember penuh buah-buahan dan botol susu untuk dibagikan.
Saya memang tidak bertemu Ritchie, tapi saya menemukan pelajaran berharga dari sebuah pusat kehidupan. Andaikan saja Orang utan bisa bicara, mereka mungkin akan mengisahkan dongeng yang bisa membuat kita menangis
11:26 AM
Derita Tak Berujung Dayak Bugau
Oleh Yohanes RJ
(Direktur Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Barat)
Ketimenggungan Bugau berada di kecamatan Ketunggau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Secara administratif, Ketemenggungan Bugau berbatasan dengan malaysia Timur sebelah utara dan Sarawak Sebelah Selatan.
Luas wilayah Kecamatan Ketungau hulu adalah sekitar 2.138,2 Km2. Sedangkan wilayah Ketemengungan Bugau diperkirakan 40% dari luas kecamatan tersebut. Ketemenggungan Bugau terdiri dari 15 kampung dengan wilayah paling hulu adalah sungai Ketungau, sungai terbesar ketiga di Kabupaten Sintang. Ketemenggungan Bugau merupakan daerah resapan dan penyuplai air bagi sungai Ketungau. Daerah perbukitan ini masih merupakan hutan tropis sekunder.
Permasalahan yang dihadapi Ketemenggungan masyarakat adat Dayak Bugau saat ini adalah masuknya lima perusahaan perkebunan kelapa sawit dan satu perusahaan pertambangan sejak 2004. Kelima perusahaan perkebunan tersebut yaitu PT Malindo Jaya Group, PT Makmur Jaya Malindo, PT Inma Jaya group dan PT Inma Makmur Lestari (Milik TNI dan investor dari Malaysia), PT Sintang Sawit Lestari. Kelima perusahaan tersebut sudah dibeli oleh investor dari Malaysia dan tergabung dalam PT Malindo Jaya Makmur (MJM). Luas ijin kelima perusahaan tersebut adalah sebesar Rp 100.000 ha.
Sementara itu, satu perusahaan batu bara juga telah memiliki ijin, yaitu PT Yana Bumi Palaka. Beroperasinya lima perusahaan perkebunan kelapa sawit merupakan bagian dari rencana pemerintah pusat untuk mengembangkan 1,8 juta hektar sawit di daerah perbatasan Indonesia (Kalimantan)-Malaysia (Sarawak).
Padahal, masyarakat sebelumnya masih trauma dengan kehadiran PT Yamaker dan Inhutani yang beroperasi sejak tahun 1985-an hingga 1997. Inhutani merupakan Hutan Tanaman Industri milik Negara. PT Yamaker merupakan Hak Penguasaan Hutan milik militer (TNI/Tentara Nasional Indonesia). PT Yamaker beroperasi di sekitar Ketemenggungan Bugau yang menjadi bagian dari usaha TNI dalam menjalankan operasi intelijen di daerah perbatasan dengan Malaysia. PT Yamaker dan Inhutani telah menebang kayu di tanah adat masyarakat tanpa memberi ganti rugi sama sekali. PT Yamaker menggunakan pendekatan kekerasan dalam menjalankan usahanya.
Sejarahnya, pada tahun 1967, Ketemenggungan ini merupakan daerah operasi militer ketika terjadi konfrontasi Paraku (Perlawanan rakyat Kalimantan Utara) dengan Malaysia. Paraku terdiri dari sebagian rakyat Indonesia dan Malaysia yang ingin mendirikan Negara Kalimantan Utara. Konfrontasi berakhir dengan pengusiran etnis Tionghoa dari daerah perbatasan dan menjadi trauma masa lalu bagi Masyarakat Adat Dayak Bugau. Saat itu sebagian besar anak muda dipaksa membantu TNI untuk berperang melawan tentara Malaysia. Warga diinterograsi dan dipaksa mengaku sebagai tentara Malaysia. Siapa yang terbukti membantu tentara Malaysia sudah pasti akan dibunuh. Masyarakat wajib menyerahkan setiap pemuda yang sehat untuk direkrut sebagai sukarelawan TNI. Ibu-ibu beserta anak gadisnya wajib menyediakan makanan bagi TNI.
"Ketika kami menjaga penjara di Senaning, kami serba salah seperti simalakama. Teman saya yang kebetulan giliran piket terpaksa harus menembak keluarga sendiri. Karena keluarga tersebut dicurigai melindungi tentara Malaysia lalu di tangkap. Saat di penjara ia berlari ke jalan ingin kabur. Karena ada perintah tembak dari ABRI terpaksa dia harus ditembak. Karena kalau tidak maka seluruh sukarelawan yang giliran menjaga malam itu akan ditembak semua," kata Tingga (63) warga kampung Antu menceritakan pengalaman temannya saat itu.
Konfrontasi dengan Malaysia dalam artian angkat senjata memang telah berakhir, PT Yamaker memang telah tutup, tetapi konfrontasi dari kehadiran PT Yamaker telah menanamkan bibit konflik dalam diri masyarakat. Konfrontasi bukan hanya membuat konflik masyarakat dengan tentara tetapi antar warga masyarakat. Ijin PT Yamaker akhirnya dicabut pada 1997 oleh Pemerintah pusat karena terbukti melakukan pembakaran dan tidak membayar pajak, namun karena dampak buruk kehadiran PT Yamaker masih terasa ditengah masyarakat.
Pada tahun 1998 muncul lagi perusahaan PT Golek, perusahaan Hak Penguasaan Hasil Hutan (HPHH). PT Golek berhenti beroperasi karena masyarakat melarangnya untuk mengambil kayu di hutan masyarakat. Pada tahun 2000, perusahaan ini tutup, dan membiarkan kayu yang ditebang menjadi busuk di tengah hutan.
Pemerintah daerah Kabupaten Sintang juga merencanakan untuk membuka lintas batas dengan Malaysia melalui Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu. Pembuatan jalan lintas utara untuk kawasan perbatasan dari Badau (Putussibau)-Desa Jasa (Sintang) sampai Jagoi Babang (Bengkayang). Saat ini telah ditempatkan lima pos jaga yang setiap posnya dijaga 10 orang anggota TNI-AD. Pemerintah daerah juga telah membeli tanah masyarakat untuk asrama polisi seluas 1,5 hektar di desa Jasa.
Di satu sisi, rencana ini positif sebagai pembuka jalur. Tapi, apabila lintas batas ini dibuka, maka dapat dipastikan harga tanah menjadi mahal. Akan banyak proyek-proyek raksasa di sekitar lintas batas. Apabila masyarakat tidak kritis dan tidak mampu mempertahankan wilayahnya, bukan tidak mungkin masyarakat Dayak Bugau akan terpinggirkan dan militer akan menguasai seluruh wilayah Ketemenggungan Bugau.
Pembukaan perkebunan PT MJM dan PT Yana Bumi Palaka yang dilakukan saat ini, menunjukkan militer berkuasa penuh. Pembersihan lahan (land clearing) oleh PT MJM secara besar-besaran di wilayah masyarakat adat menggunakan penjagaan kepolisian (Brimob). Ini menunjukkan penderitaan masyarakat adat di Kecamatan Senaning akan terus berlangsung. Dari awal, kemerdekaan memang menjadi alat TNI untuk berperang dengan tentara Malaysia, setelah itu masyarakat harus menjadi penonton ketika PT Yamaker mengambil kayunya. Sekarang wilayahnya pun dirampas oleh perkebunan kelapa sawit. Sampai kapan penderitaan yang diciptakan pemerintah pusat akan berakhir?
*Direktur Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Barat
(Direktur Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Barat)
Ketimenggungan Bugau berada di kecamatan Ketunggau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Secara administratif, Ketemenggungan Bugau berbatasan dengan malaysia Timur sebelah utara dan Sarawak Sebelah Selatan.
Luas wilayah Kecamatan Ketungau hulu adalah sekitar 2.138,2 Km2. Sedangkan wilayah Ketemengungan Bugau diperkirakan 40% dari luas kecamatan tersebut. Ketemenggungan Bugau terdiri dari 15 kampung dengan wilayah paling hulu adalah sungai Ketungau, sungai terbesar ketiga di Kabupaten Sintang. Ketemenggungan Bugau merupakan daerah resapan dan penyuplai air bagi sungai Ketungau. Daerah perbukitan ini masih merupakan hutan tropis sekunder.
Permasalahan yang dihadapi Ketemenggungan masyarakat adat Dayak Bugau saat ini adalah masuknya lima perusahaan perkebunan kelapa sawit dan satu perusahaan pertambangan sejak 2004. Kelima perusahaan perkebunan tersebut yaitu PT Malindo Jaya Group, PT Makmur Jaya Malindo, PT Inma Jaya group dan PT Inma Makmur Lestari (Milik TNI dan investor dari Malaysia), PT Sintang Sawit Lestari. Kelima perusahaan tersebut sudah dibeli oleh investor dari Malaysia dan tergabung dalam PT Malindo Jaya Makmur (MJM). Luas ijin kelima perusahaan tersebut adalah sebesar Rp 100.000 ha.
Sementara itu, satu perusahaan batu bara juga telah memiliki ijin, yaitu PT Yana Bumi Palaka. Beroperasinya lima perusahaan perkebunan kelapa sawit merupakan bagian dari rencana pemerintah pusat untuk mengembangkan 1,8 juta hektar sawit di daerah perbatasan Indonesia (Kalimantan)-Malaysia (Sarawak).
Padahal, masyarakat sebelumnya masih trauma dengan kehadiran PT Yamaker dan Inhutani yang beroperasi sejak tahun 1985-an hingga 1997. Inhutani merupakan Hutan Tanaman Industri milik Negara. PT Yamaker merupakan Hak Penguasaan Hutan milik militer (TNI/Tentara Nasional Indonesia). PT Yamaker beroperasi di sekitar Ketemenggungan Bugau yang menjadi bagian dari usaha TNI dalam menjalankan operasi intelijen di daerah perbatasan dengan Malaysia. PT Yamaker dan Inhutani telah menebang kayu di tanah adat masyarakat tanpa memberi ganti rugi sama sekali. PT Yamaker menggunakan pendekatan kekerasan dalam menjalankan usahanya.
Sejarahnya, pada tahun 1967, Ketemenggungan ini merupakan daerah operasi militer ketika terjadi konfrontasi Paraku (Perlawanan rakyat Kalimantan Utara) dengan Malaysia. Paraku terdiri dari sebagian rakyat Indonesia dan Malaysia yang ingin mendirikan Negara Kalimantan Utara. Konfrontasi berakhir dengan pengusiran etnis Tionghoa dari daerah perbatasan dan menjadi trauma masa lalu bagi Masyarakat Adat Dayak Bugau. Saat itu sebagian besar anak muda dipaksa membantu TNI untuk berperang melawan tentara Malaysia. Warga diinterograsi dan dipaksa mengaku sebagai tentara Malaysia. Siapa yang terbukti membantu tentara Malaysia sudah pasti akan dibunuh. Masyarakat wajib menyerahkan setiap pemuda yang sehat untuk direkrut sebagai sukarelawan TNI. Ibu-ibu beserta anak gadisnya wajib menyediakan makanan bagi TNI.
"Ketika kami menjaga penjara di Senaning, kami serba salah seperti simalakama. Teman saya yang kebetulan giliran piket terpaksa harus menembak keluarga sendiri. Karena keluarga tersebut dicurigai melindungi tentara Malaysia lalu di tangkap. Saat di penjara ia berlari ke jalan ingin kabur. Karena ada perintah tembak dari ABRI terpaksa dia harus ditembak. Karena kalau tidak maka seluruh sukarelawan yang giliran menjaga malam itu akan ditembak semua," kata Tingga (63) warga kampung Antu menceritakan pengalaman temannya saat itu.
Konfrontasi dengan Malaysia dalam artian angkat senjata memang telah berakhir, PT Yamaker memang telah tutup, tetapi konfrontasi dari kehadiran PT Yamaker telah menanamkan bibit konflik dalam diri masyarakat. Konfrontasi bukan hanya membuat konflik masyarakat dengan tentara tetapi antar warga masyarakat. Ijin PT Yamaker akhirnya dicabut pada 1997 oleh Pemerintah pusat karena terbukti melakukan pembakaran dan tidak membayar pajak, namun karena dampak buruk kehadiran PT Yamaker masih terasa ditengah masyarakat.
Pada tahun 1998 muncul lagi perusahaan PT Golek, perusahaan Hak Penguasaan Hasil Hutan (HPHH). PT Golek berhenti beroperasi karena masyarakat melarangnya untuk mengambil kayu di hutan masyarakat. Pada tahun 2000, perusahaan ini tutup, dan membiarkan kayu yang ditebang menjadi busuk di tengah hutan.
Pemerintah daerah Kabupaten Sintang juga merencanakan untuk membuka lintas batas dengan Malaysia melalui Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu. Pembuatan jalan lintas utara untuk kawasan perbatasan dari Badau (Putussibau)-Desa Jasa (Sintang) sampai Jagoi Babang (Bengkayang). Saat ini telah ditempatkan lima pos jaga yang setiap posnya dijaga 10 orang anggota TNI-AD. Pemerintah daerah juga telah membeli tanah masyarakat untuk asrama polisi seluas 1,5 hektar di desa Jasa.
Di satu sisi, rencana ini positif sebagai pembuka jalur. Tapi, apabila lintas batas ini dibuka, maka dapat dipastikan harga tanah menjadi mahal. Akan banyak proyek-proyek raksasa di sekitar lintas batas. Apabila masyarakat tidak kritis dan tidak mampu mempertahankan wilayahnya, bukan tidak mungkin masyarakat Dayak Bugau akan terpinggirkan dan militer akan menguasai seluruh wilayah Ketemenggungan Bugau.
Pembukaan perkebunan PT MJM dan PT Yana Bumi Palaka yang dilakukan saat ini, menunjukkan militer berkuasa penuh. Pembersihan lahan (land clearing) oleh PT MJM secara besar-besaran di wilayah masyarakat adat menggunakan penjagaan kepolisian (Brimob). Ini menunjukkan penderitaan masyarakat adat di Kecamatan Senaning akan terus berlangsung. Dari awal, kemerdekaan memang menjadi alat TNI untuk berperang dengan tentara Malaysia, setelah itu masyarakat harus menjadi penonton ketika PT Yamaker mengambil kayunya. Sekarang wilayahnya pun dirampas oleh perkebunan kelapa sawit. Sampai kapan penderitaan yang diciptakan pemerintah pusat akan berakhir?
*Direktur Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Barat
11:31 AM
Sejarah, Makna Serta Tujuan Ritual Dange bagi Suku Dayak Kayaan
Oleh D. Uyub dan A.Alexander Mering
Latar Belakang
Suku Dayak Kayaan satu dari 151 subsuku Dayak di Kalimantan Barat (Buku Mozaik Dayak, Keberagaman Suku dan Bahasa Dayak di Kalbar, terbitan Institut Dayakologi, 2008) yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu-Kalimantan Barat adalah masyarakat yang kehidupan mereka relatif kental dengan adat istiadat. Dewasa ini, suku Dayak Kayaan sudah semakin banyak menetap di berbagai kabupaten/kota di Kalbar. Suku Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam ini terdiri dari tiga subsku kecil, yakni Kayaan Umaa’ Pagung, Umaa’ Suling dan Umaa’ Aging. Mereka semua adalah suku bangsa Kayaan.
Sejak ratusan tahun silam suku ini meninggalkan Apo Kayaan di Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur (daerah asal suku Dayak Kayaanik), mereka selalu memegang teguh budaya dari leluhurnya. Salah satunya adalah upacara syukuran atas berkah dan rahmat dari Tipang Tenangaan (Tuhan Allah), dalam bentuk upacara adat yang dinamai Dange. Dange memiliki makna yang sama dengan gawai Dayak. Dange adalah upacara adat yang selain untuk mengucap syukur pada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara mereka yang masing-masing sibuk dengan pekerjaan sendiri selama satu siklus perladangan untuk saling meneguhkan, memaafkan dan saling memgbai pengalaman hidup.
Dalam syair sastra dayung dange (syair doa yang dilagukan dalam dange) Dayak Kayaan, adanya tradisi upacara adat yang sarat dengan makna ritual dan riligius bahwa dange diciptakan oleh kuu’ Kuleh (kake Kuleh) Menurut syair dalam dayung dange, ku’ kuleh ini adalah orang Kayaan Umaa’ Aging. Tapi dange ini juga berlaku pada Kayaan Umaa’ Suling.
Kuu’ Kuleh ini punya anak dan cucu yang masing-masing hidup sendiri ditempat lain. Mereka ini ada yang berada di lung danum (harafiahnya adalah kuala sungai), aur danum (harafiahnya adalah hulu sungai), lung hilo, lung leno. Tempat-tampat yang dimaksud adalah tempat dimana Lawe’ (Lawe’ adalah orang yang memiliki kekuatan supranatural dan tersohor dalam cerita suku Dayak Kayaan) dan Kerigit (Kerigit adalah istri Lawe’). Daerah ini sekarang berada di daerah Apo’ Kayaan.
Semua anak dan cucu Kuu’ Kuleh dikumpulkan. Tetapi dia bingung bagaimana mereka bisa naik rumah dan semangat anak dan cucunya bisa kuat. Maka Kuu’ Kuleh mengadakan mela (daun juang dan besi yang disebut ukul, dikikat menjadi satu, kemudian dikibas-kibas pada tangan sementara lantai ada malaat kayo/mandau dan bato kajaa’ ; batu khusus yang disiapkan untuk diinjak oleh orang yang dimela). Setelah proses ini selesai, baru anak dan cucunya boleh masuk dalam rumahnya. Setalah proses mela selesai, barulah Kuu’ Kuleh mengadakan dange.
Sementara munculnya dange pada Kayaan Umaa’ Pagung menurut cerita rakyat, setelah ada seorang bayi laki-laki ditemukan dalam paak nagnga’ (pelepah tanaman sebangsa pohon palem), ketika suku ini pergi malo’ (pergi mengerjakan sagu; baca sagu). Penemuan anak itu secara kebetulan, namun ketika ditemukan dia menangis, bahkan hingga sampai ke rumah. Sesampai dirumah, bayi itu diberi nama Kilah, setelah beberapa nama lain diberikan padanya namun tidak cocok. Karenanya maka Kuu’ Kialah digelar dengan panggilan Kuu’ Kilah Paloo’. Ketika dia sudah dewasa, Ku’ Kilah Palo mendirikan dange Uma Pagung. Kuu’ Kilah inilah yang menciptakan dange dalam subsuku Kayaan Umaa’ Pagung. Tujuan dange yang diciptakan oleh Kuu’ Kilah ini sama hakekatnya dengan dange yang diciptakan oleh Kuu’ Kuleh.
Dange adalah upacara adat yang tertinggi dan sakral dalam deretan upacara lalii’ (peraturan dan larangan dalam simbol adat berdasarkan keyakinan; Mikhail Coomans, 1987) pada sistim perladangan suku Kayaan. Karenanya upacara sakral ini mesti dilakukan setiap tahun. Dange yang dilakukan setelah panen padi yang jatuh sekitar bulan April-Mei setiap tahun ini, bermakna positif bagi masyarakat Kayaan. Yakni selain digunakan sebagai moment untuk bersyukur atas hasil perladangan, juga untuk meminta hasil perladangan yang berlimpah untuk tahun berikutnya, melalui Savit Puyaang Lahe alang hipun kenap sayuu’ nite (Tuhan pencipta langit dan bumi yang memiliki sifat murah hati) agar memberikan rejeki pada umatnya.
Dalam upacara dange, selain mengadakan tarian pejuu’ lassah, yang merupakan simbol dan media bagi masyarakat Kayaan untuk menyampaikan doanya dan permohonan pada Tuhan, juga mengadakan ritual neguk (neguk; asal kata dari mengetuk. Ritual ini bertujuan untuk meminta pada tanah, hujan, kemarau, binatang dalam tanah seperti cacing dan sebagainya), agar kegiatan dange yang berlangsung bisa sukses, sekaligus diberikan kemudahan dan rejeki dalam perladangan pada tahun berikutnya.
Keterlibatan semua orang ketika upacara dange berlangsung, merupakan bagian dari persembahan rohani yang tak ternilai pada Tipang. Karena bagi-Nya, dalam keyakinan Dayak Kayaan, kehadiran setiap orang merupakan sebuah kehormatan terbesar, karena manusia mau mengadakan upacara yang harus mengorbankan kurban persembahan baik berupa babi, ayam dan kepala manusia (jika dulu; Kayaan Umaa’ Pagung harus mengurbankan kepala manusia) dan semua hasil perladangan dalam ritual dange.
Tujuan Dange yang Diselenggarakan di Pontianak
Secara umum, dange bertujuan selain untuk mengucap syukur pada Tuhan, juga dalam kerangka mengumpulkan keluarga besar Kayaan di Pontianak yang selama ini belum pernah berkumpul dalam suasana yang disatukan oleh upacara adat yang diciptakan oleh leluhur mereka.
Kali ini komunitas suku Dayak Kayaan yang ada di Kota Pontianak yang tergabung dalam Hulaan Apo Kayaan Pontianak, menyelenggarakan dange dengan tujuan selain tersebut diatas, juga mau mempromosikan budaya suku Dayak Kayaan pada khalayak ramai. Sekaligus mendukung upaya promosi dari pemerintah Kalimantan Barat untuk mempromosikan budaya yang ada di Kalimantan Barat. Setitidaknya, dari kegiatan dange tersebut, masyarakat mau benar-benar menggali budaya asli dan memperkenalkannya pada komunitas lain. Dange ini pula mau mengingatkan seluruh lapisan masyarakat bahwa masih pentingkah budaya pertahankan dan dihidupkan? Dewasa ini tantangan besar bagi setiap komunitas di Kalbar adalah adanya tekanan budaya modrenisasi terhadap kebudayaan asli suku Dayak. Sadar dan tidak, bahwa hilangnya suatu tradisi dalam komunitas, akan berdampak buruk pada komunitas itu sendiri. Diantaranya akan terjadi degradasi budaya yang mungkin besar-besaran. Terlepas dari itu semua, dampak masuknya perusahaan sekaligus para karyawannya dari luar, menjadi tantangan berat bagi komunitas khususnya Dayak, terlebih bagi masyarakat Dayak Kayaan. Karena itu semua akan mengikis habis secara perlahan-lahan adat istiadat dan seni budaya Dayaak secara menyeluruh. Inilah yang menjadi catatan penting, kenapa dange ini mesti diadakan dan dibuka untuk umum. Mungkin kegiatan ini kedepannya akan terus berlangsung, dengan demikian semakin banyak kekayaan budaya yang bisa mendukung dunia kepariwisataan di Kalbar.
Prosesi Dange Kayaan di Pontianak
Untuk mendirikan lepo dange (pondok dange), berbagai hal yang harus disiapkan. Di antaranya seperti pergi mencari peralatan lepo dange. Kegiatan ini dilakukan sehari sebelum upacara ritual dilakukan yakni (Jumat 13 juni 2008),. Setelah bahan-bahan terkumpul, bahan tersebut langsung di bawa ke rumah panjang Dayak di Jalan Letjen Sutoyo-Pontianak.
Tempat dan Waktu Kegiatan
Tempat : Rumah Adat Dayak Jalan Letjen Sutoyo Pontianak
Tanggal : Sabtu, 14 sampai Minggu, 15 Juni 2008
Agenda lain terlampir.
Pondok didirikan hari berikutnya yakni Sabtu, tanggal 14 Juni 2008.
Acara pendirian lepo dange yang akan berlangsung mulai dari pukul 08.00 wib ini, diawali dengan ritual
1. Mawaang Alaan Jak Dange:
(membersaihkan jalan untuk mendirikan lepo dange) yang dipimpin oleh dayung aya’ (imam adat yang memiliki peran utama). Tujuan ini adalah untuk memberitahukan pada semua orang dan makhluk hidup di darat, sungai dan udara bahwa dange akan segera dimulai. Setelah dua rentetan ritual ini usai, barulah orang-orang mendirikan lepo dange.
2. Mawaang Alaan Uting. (membersihkan jalaan roh/jiwa uting; babi piaraan)
Doa ritual ini bertujuan memberitahukan pada semua orang, terkhusus pada leluhur Kayaan bahwa uting akan menjadi kurban pada acara dange. Dengan demikian, semua masyarakat akan memiliki semangat yang lebih kuat.
3. Misa Inkulturasi dan Malam Pevengo (menunggu hari pagi):
Yang menariknya lagi adalah budaya dange ini bisa masuk dalam ibadat misa di gereja katolik (Inkulturasi). Misa ini akan berlangsung mulai dari pukul 18.00-20.00 wib (malam minggu). Namun acara ini lebih pada internal suku keluarga besar Dayak Kayaan di Pontianak.
Terjadinya misa inkulturasi ini, berkat kejelian pastor AJ. Ding Ngo, SMM. Dikalangan umat Katolik di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, nama Pastor AJ. Ding Ngo SMM secara umum hampir tidak asing lagi. Putra Dayak Kayaan yang meninggal dunia Mei tahun 1995 silam ini, sekaligus pelopor imam pertama bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Selain pemimpin umat, di juga termasuk seorang sosiologi. Karyanya tentang budaya pada suku Dayak Kayaan seperti syair lawe dan catatannya tentang Kayaan di Sungai Mendalam hingga Kayaan di Apo Kayaan-Kaltim dan Serawak-Malaysia, kamus bahasa Dayak Kayaan dan banyak lagi lainnya yang menjadi referensi para peneliti dan akademisi dunia. Latarbelakangnya sebagai orang imam, menginspirasinya untuk menggabungkan budaya (dange) dalam ajaran Katolik. Dange yang dimiliki Dayak Kayaan, adalah satu-satunya budaya Dayak yang telah mampu melebur menjadi satu dalam gereja khusus Katolik. Ini berkat perhatiannya pada budaya Dayak, khususnya Dayak Kayaan.
Semua itu berangkat dari keperihatinannya dan kejeliannya setelah masuknya agama Katolik yang dibawa oleh para misionaris, dalam tatanah kehidupan masyarakat adat Kayaan, hingga terjadi degradasi budaya. Salah satu rangkaian upacara adat dange yang menarik bagi pastor ini adalah dayung kigaan (para anggota dayung menari berjalan mengelilingi lasah, dan dayung aya’ melantunkan nyanyian daonya), serta tarian pejuu’ lasah dan tarian lalang buko (nama seorang perempuan). Tarian pejuu’ lasah (pejuu’ lasah berarti mengangkat lasah) lasah adalah sejenis pagar. Enam batang kayu sebesar pergelangan tangan orang tua dan delapan potongan pendek yang melintang. Sementara tarian pejuu’ lasah adalah tarian yang disertai dengan doa/mantra yang disampaikan pada Tuhan, mengelilingi lasah. Sementara tarian lalang buko, adalah tarian yang yang wajib ditarian dalam dange untuk memperingati bahwa leluhur mereka jaman dulu mampu menghidupkan orang mati oleh lalang buko, menggunakan sape’ kayaan (sape’ bersenar dua).
Prosesi misa dange sendiri, selain menggunakan bahasa Kayaan baik lagu maupun rentetanan doa dalam perayaan misa dange, juga ada syair dayung, (syair dayung lebih pada jenis syair tradisi, bukan manusia) dalam menyampaikan kesukariaan dan permohonan pada tuhan sebagai persembahan. Yang tidak kalah pentingnya dalam rangkaian prosesi misa dange adalah masuknya tarian pejuu’ lasah (tarian sekaligus penyampaian hajat/doa pada tuhan ketika persembahan dalam liturgi melalui medianya yang disebut lasah). Peralatan lasah terdiri dari
Acara Ritual Dange, Minggu Tanggal 15 Juni 2008
Acara hari Minggu ini akan dimulai pukul 08.00 – selesai. Untaian prosesi ritual dange adalah sebagai berikut:
1. Ritual ngaping langat (harafiahnya; menipas awan, namun yang dimaksud adalah marabahaya): kegiatan di lepo dange
Tujuan ritual ini adalah untuk meminta pada Tuhan agar dia mau menyingkirkan segala marabahaya bagi manusaia sekaligus mau melindungi upacara dange. Kemudian diteruskan dengan penancapan tiang lepo dange.
2. Ritual Nevaraa’ Uting dan Dayung Taharii (memberi tahu babi dan syair doa pertama): Kegiatan di rumah
Tujuan ritual ini agar babi tidak memiliki atau menyimpan rasa sakit hati pada manusia karena dia akan dibunuh untuk dijadikan kurban sembelihan dalam lepo dange. Setelah ritual ini selesai, babi bersama rombongan dayung (sembilan orang ibu-ibu), turun dari rumah menuju lepo dange.
3. Ritual Nevak uting (nyembelih babi): kegiatan di lepo dange
setelah para dayung naik lepo dange, babi diletakan ditengah lepo dan mukanya menghadap matahari terbit. Kemudaian sidayung meletakan kalung manik tua di lehernya dan menghentak-hentakkan huing (kerincing) pada badan babi tersebut sambil menyampaikan mantra. Mengatakan bahwa bersama ini pergilah kamu roh sang babi. Ketika darah babi menguyur deras dari lehernya, karena disembelih, dayung aya’ menadah da’un havaang (daun sabang) pada darah babi tersebut. Setelah itu, babi bersama tim dayung yang lain naik ke rumah. Sementara dayung aya’ dan satu orang dayung uk (dayung kecil; bukan pemeran uatam), tetap tinggal dalam lepo dange. Ketika inilah dayung melakukan mela (mengibas-ibas daun sabang sambil mengucapkan mantra), agar orang yang di-pela (asal kata dari mela), mendapat rejeki, kesehatan, umur panjang dan hal-hal yang berguna bagi yang bersangkutan dalam meniti kehidupannya. Selain itu, mela ini juga bisa berlaku untuk memberikan nama kayaan bagi anak-anak. Karena itu maka dalam dange besar/utama, juga ada sebutan dange anaak (dange yang diistimewakan bagai anak, untuk mendapat nama dalam lepo dange). Setelah dayung selesai mela dalam pondok dange, dia bersama satu temannya naik ke rumah. Kemudain turun lagi ke pondok dange.
4. Ritual Neguk Ake Tanaa’ (mengetuk-ngetuk lantai dengan dua potong bambu kecil, meminta tanah): kegiatan di lepo dange
ritual ini bertujuan untuk memintah tanah yang baik untuk lahan pertanian pada tahun berikutnya. Serentetatan ritual ini adala;
a. Maya Tivi:
Adalah sebuah mantra yang diucapakan untuk mengalahkan musuh pada saat ngayau, atau dalam perkelahian lainnya.
b. Tepujo’ Ujaan:
Adalah sebuah mantra yang meminta pada para leluhur kayaan yang satria, agar mereka mau datang kembali untuk melindungi warganya.
Setelah ritual ini selesai, rombongan dayung naik lagi ke rumah.
5. Mela arung (mela nasi): kegiatan di rumah
Ini adalah mantra/doa untuk membagi rejeki pada semua orang, terutama anak kecil. Dihadapan si-dayung, ada daun pisang, setiap lapisan daun pisang itu diselipi sejemput nasi. Dayung memegang hikap (tanggok ikan) sambil sesekali dia mengoyang tanggok itu, emngisaratkan bahwa dia sedang menanggok jiwa/roh padi.
6. Puran Bataang Bulit (mengamburkan nasi dan daun pisang); kegiatan di rumah
Setelah dayung melantunkan mantranya, anak-anak berebut daun pisang dan saling memukul daun pisang itu diantara mereka. Ini menandakan bahwa mereka sedang merebut rejeki.
7. Ngaping Langat (sda): kegiatan di Lepo dange
Dayung aya’ masuk sendiri dalam lepo dange. Diatas pondok, dia memotong dua buah tali yang digunakan untuk mengikat atap pondok yang terbuat dari kain. Tujuannya agar segala doa dan permohonannya bisa pergi naik menghadap tuhan dengan leluasa. Setelah dayung aya’ memotong tali tersebut, dia menggoyang-goyang pondok dari atas. Kemudain turun kebawah pondok. Dayung kemudian memutar dari arah sebelah kanan ke kiri, sambil menancapkan tobak yang dipengangnya disetiap tiang pondok. Setelah dayung aya’ menyelesaikan tugas itu, baru kemudian diikuti oleh tim dayung yang lainnya. Sambil menari mengelilingi pondok dengan musik gong, mereka menggoyang-goyang lepo dange. Dengan demikian, diyakini segala sesuatu yang dilakukan dan diharapkan dalam setiap prosesi dange itu, bisa diterima oleh Tuhan.
8. Nyinah (menguatkan semangat atau jiwa; Sama maksud dengan nyaru’ semangat dalam pengertian Dayak Kanayatn): kegiatan tetap di rumah
Dayung mendoakan semua orang agar tidak sesat pada jalan yang salah dalam hidupnya, dan berkumpul kembali dalam rumah. Ini difokuskan bagi semua orang yang ikut dalam upacara dange tersebut.
9. Karaang lalang buko (tarian ritual Lalang Buko);
Tarian ini ditarikan di atas memaang (sejenis gong, napun ceper). Tarian ini menginterperetasikan bahwa Lalang Buko pernah menghidupakan orang mati (mitos dayak Kayaan dalam syair tekna Lawe’).
10. Karaang Pejuu’ Lasah:
Ini puncak dari segala ritualitas dalam dange yang diadakan dalam rumah, untuk menyampaikan segala harapan dan permohonan masyarakat Kayaan pada Tuhan.
11. Dayung ulii’ (para anggota dayung masuk dalam bilik); kegiatan tetap di rumah
Para anggota dayung dari ruaang tengah masuk ke dalam amin aya’ (bilik milik hipi). Hipi (bangsawan; pemegang kekuasaan tertinggi yang mengatur segala perikehidupan dan adat istiadat serta budaya dalam suku Dayak Kayaan).
Semua prosesi ritualitas dange selesai.
Suku Dayak Kayaan satu dari 151 subsuku Dayak di Kalimantan Barat (Buku Mozaik Dayak, Keberagaman Suku dan Bahasa Dayak di Kalbar, terbitan Institut Dayakologi, 2008) yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu-Kalimantan Barat adalah masyarakat yang kehidupan mereka relatif kental dengan adat istiadat. Dewasa ini, suku Dayak Kayaan sudah semakin banyak menetap di berbagai kabupaten/kota di Kalbar. Suku Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam ini terdiri dari tiga subsku kecil, yakni Kayaan Umaa’ Pagung, Umaa’ Suling dan Umaa’ Aging. Mereka semua adalah suku bangsa Kayaan.
Sejak ratusan tahun silam suku ini meninggalkan Apo Kayaan di Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur (daerah asal suku Dayak Kayaanik), mereka selalu memegang teguh budaya dari leluhurnya. Salah satunya adalah upacara syukuran atas berkah dan rahmat dari Tipang Tenangaan (Tuhan Allah), dalam bentuk upacara adat yang dinamai Dange. Dange memiliki makna yang sama dengan gawai Dayak. Dange adalah upacara adat yang selain untuk mengucap syukur pada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara mereka yang masing-masing sibuk dengan pekerjaan sendiri selama satu siklus perladangan untuk saling meneguhkan, memaafkan dan saling memgbai pengalaman hidup.
Dalam syair sastra dayung dange (syair doa yang dilagukan dalam dange) Dayak Kayaan, adanya tradisi upacara adat yang sarat dengan makna ritual dan riligius bahwa dange diciptakan oleh kuu’ Kuleh (kake Kuleh) Menurut syair dalam dayung dange, ku’ kuleh ini adalah orang Kayaan Umaa’ Aging. Tapi dange ini juga berlaku pada Kayaan Umaa’ Suling.
Kuu’ Kuleh ini punya anak dan cucu yang masing-masing hidup sendiri ditempat lain. Mereka ini ada yang berada di lung danum (harafiahnya adalah kuala sungai), aur danum (harafiahnya adalah hulu sungai), lung hilo, lung leno. Tempat-tampat yang dimaksud adalah tempat dimana Lawe’ (Lawe’ adalah orang yang memiliki kekuatan supranatural dan tersohor dalam cerita suku Dayak Kayaan) dan Kerigit (Kerigit adalah istri Lawe’). Daerah ini sekarang berada di daerah Apo’ Kayaan.
Semua anak dan cucu Kuu’ Kuleh dikumpulkan. Tetapi dia bingung bagaimana mereka bisa naik rumah dan semangat anak dan cucunya bisa kuat. Maka Kuu’ Kuleh mengadakan mela (daun juang dan besi yang disebut ukul, dikikat menjadi satu, kemudian dikibas-kibas pada tangan sementara lantai ada malaat kayo/mandau dan bato kajaa’ ; batu khusus yang disiapkan untuk diinjak oleh orang yang dimela). Setelah proses ini selesai, baru anak dan cucunya boleh masuk dalam rumahnya. Setalah proses mela selesai, barulah Kuu’ Kuleh mengadakan dange.
Sementara munculnya dange pada Kayaan Umaa’ Pagung menurut cerita rakyat, setelah ada seorang bayi laki-laki ditemukan dalam paak nagnga’ (pelepah tanaman sebangsa pohon palem), ketika suku ini pergi malo’ (pergi mengerjakan sagu; baca sagu). Penemuan anak itu secara kebetulan, namun ketika ditemukan dia menangis, bahkan hingga sampai ke rumah. Sesampai dirumah, bayi itu diberi nama Kilah, setelah beberapa nama lain diberikan padanya namun tidak cocok. Karenanya maka Kuu’ Kialah digelar dengan panggilan Kuu’ Kilah Paloo’. Ketika dia sudah dewasa, Ku’ Kilah Palo mendirikan dange Uma Pagung. Kuu’ Kilah inilah yang menciptakan dange dalam subsuku Kayaan Umaa’ Pagung. Tujuan dange yang diciptakan oleh Kuu’ Kilah ini sama hakekatnya dengan dange yang diciptakan oleh Kuu’ Kuleh.
Dange adalah upacara adat yang tertinggi dan sakral dalam deretan upacara lalii’ (peraturan dan larangan dalam simbol adat berdasarkan keyakinan; Mikhail Coomans, 1987) pada sistim perladangan suku Kayaan. Karenanya upacara sakral ini mesti dilakukan setiap tahun. Dange yang dilakukan setelah panen padi yang jatuh sekitar bulan April-Mei setiap tahun ini, bermakna positif bagi masyarakat Kayaan. Yakni selain digunakan sebagai moment untuk bersyukur atas hasil perladangan, juga untuk meminta hasil perladangan yang berlimpah untuk tahun berikutnya, melalui Savit Puyaang Lahe alang hipun kenap sayuu’ nite (Tuhan pencipta langit dan bumi yang memiliki sifat murah hati) agar memberikan rejeki pada umatnya.
Dalam upacara dange, selain mengadakan tarian pejuu’ lassah, yang merupakan simbol dan media bagi masyarakat Kayaan untuk menyampaikan doanya dan permohonan pada Tuhan, juga mengadakan ritual neguk (neguk; asal kata dari mengetuk. Ritual ini bertujuan untuk meminta pada tanah, hujan, kemarau, binatang dalam tanah seperti cacing dan sebagainya), agar kegiatan dange yang berlangsung bisa sukses, sekaligus diberikan kemudahan dan rejeki dalam perladangan pada tahun berikutnya.
Keterlibatan semua orang ketika upacara dange berlangsung, merupakan bagian dari persembahan rohani yang tak ternilai pada Tipang. Karena bagi-Nya, dalam keyakinan Dayak Kayaan, kehadiran setiap orang merupakan sebuah kehormatan terbesar, karena manusia mau mengadakan upacara yang harus mengorbankan kurban persembahan baik berupa babi, ayam dan kepala manusia (jika dulu; Kayaan Umaa’ Pagung harus mengurbankan kepala manusia) dan semua hasil perladangan dalam ritual dange.
Tujuan Dange yang Diselenggarakan di Pontianak
Secara umum, dange bertujuan selain untuk mengucap syukur pada Tuhan, juga dalam kerangka mengumpulkan keluarga besar Kayaan di Pontianak yang selama ini belum pernah berkumpul dalam suasana yang disatukan oleh upacara adat yang diciptakan oleh leluhur mereka.
Kali ini komunitas suku Dayak Kayaan yang ada di Kota Pontianak yang tergabung dalam Hulaan Apo Kayaan Pontianak, menyelenggarakan dange dengan tujuan selain tersebut diatas, juga mau mempromosikan budaya suku Dayak Kayaan pada khalayak ramai. Sekaligus mendukung upaya promosi dari pemerintah Kalimantan Barat untuk mempromosikan budaya yang ada di Kalimantan Barat. Setitidaknya, dari kegiatan dange tersebut, masyarakat mau benar-benar menggali budaya asli dan memperkenalkannya pada komunitas lain. Dange ini pula mau mengingatkan seluruh lapisan masyarakat bahwa masih pentingkah budaya pertahankan dan dihidupkan? Dewasa ini tantangan besar bagi setiap komunitas di Kalbar adalah adanya tekanan budaya modrenisasi terhadap kebudayaan asli suku Dayak. Sadar dan tidak, bahwa hilangnya suatu tradisi dalam komunitas, akan berdampak buruk pada komunitas itu sendiri. Diantaranya akan terjadi degradasi budaya yang mungkin besar-besaran. Terlepas dari itu semua, dampak masuknya perusahaan sekaligus para karyawannya dari luar, menjadi tantangan berat bagi komunitas khususnya Dayak, terlebih bagi masyarakat Dayak Kayaan. Karena itu semua akan mengikis habis secara perlahan-lahan adat istiadat dan seni budaya Dayaak secara menyeluruh. Inilah yang menjadi catatan penting, kenapa dange ini mesti diadakan dan dibuka untuk umum. Mungkin kegiatan ini kedepannya akan terus berlangsung, dengan demikian semakin banyak kekayaan budaya yang bisa mendukung dunia kepariwisataan di Kalbar.
Prosesi Dange Kayaan di Pontianak
Untuk mendirikan lepo dange (pondok dange), berbagai hal yang harus disiapkan. Di antaranya seperti pergi mencari peralatan lepo dange. Kegiatan ini dilakukan sehari sebelum upacara ritual dilakukan yakni (Jumat 13 juni 2008),. Setelah bahan-bahan terkumpul, bahan tersebut langsung di bawa ke rumah panjang Dayak di Jalan Letjen Sutoyo-Pontianak.
Tempat dan Waktu Kegiatan
Tempat : Rumah Adat Dayak Jalan Letjen Sutoyo Pontianak
Tanggal : Sabtu, 14 sampai Minggu, 15 Juni 2008
Agenda lain terlampir.
Pondok didirikan hari berikutnya yakni Sabtu, tanggal 14 Juni 2008.
Acara pendirian lepo dange yang akan berlangsung mulai dari pukul 08.00 wib ini, diawali dengan ritual
1. Mawaang Alaan Jak Dange:
(membersaihkan jalan untuk mendirikan lepo dange) yang dipimpin oleh dayung aya’ (imam adat yang memiliki peran utama). Tujuan ini adalah untuk memberitahukan pada semua orang dan makhluk hidup di darat, sungai dan udara bahwa dange akan segera dimulai. Setelah dua rentetan ritual ini usai, barulah orang-orang mendirikan lepo dange.
2. Mawaang Alaan Uting. (membersihkan jalaan roh/jiwa uting; babi piaraan)
Doa ritual ini bertujuan memberitahukan pada semua orang, terkhusus pada leluhur Kayaan bahwa uting akan menjadi kurban pada acara dange. Dengan demikian, semua masyarakat akan memiliki semangat yang lebih kuat.
3. Misa Inkulturasi dan Malam Pevengo (menunggu hari pagi):
Yang menariknya lagi adalah budaya dange ini bisa masuk dalam ibadat misa di gereja katolik (Inkulturasi). Misa ini akan berlangsung mulai dari pukul 18.00-20.00 wib (malam minggu). Namun acara ini lebih pada internal suku keluarga besar Dayak Kayaan di Pontianak.
Terjadinya misa inkulturasi ini, berkat kejelian pastor AJ. Ding Ngo, SMM. Dikalangan umat Katolik di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, nama Pastor AJ. Ding Ngo SMM secara umum hampir tidak asing lagi. Putra Dayak Kayaan yang meninggal dunia Mei tahun 1995 silam ini, sekaligus pelopor imam pertama bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Selain pemimpin umat, di juga termasuk seorang sosiologi. Karyanya tentang budaya pada suku Dayak Kayaan seperti syair lawe dan catatannya tentang Kayaan di Sungai Mendalam hingga Kayaan di Apo Kayaan-Kaltim dan Serawak-Malaysia, kamus bahasa Dayak Kayaan dan banyak lagi lainnya yang menjadi referensi para peneliti dan akademisi dunia. Latarbelakangnya sebagai orang imam, menginspirasinya untuk menggabungkan budaya (dange) dalam ajaran Katolik. Dange yang dimiliki Dayak Kayaan, adalah satu-satunya budaya Dayak yang telah mampu melebur menjadi satu dalam gereja khusus Katolik. Ini berkat perhatiannya pada budaya Dayak, khususnya Dayak Kayaan.
Semua itu berangkat dari keperihatinannya dan kejeliannya setelah masuknya agama Katolik yang dibawa oleh para misionaris, dalam tatanah kehidupan masyarakat adat Kayaan, hingga terjadi degradasi budaya. Salah satu rangkaian upacara adat dange yang menarik bagi pastor ini adalah dayung kigaan (para anggota dayung menari berjalan mengelilingi lasah, dan dayung aya’ melantunkan nyanyian daonya), serta tarian pejuu’ lasah dan tarian lalang buko (nama seorang perempuan). Tarian pejuu’ lasah (pejuu’ lasah berarti mengangkat lasah) lasah adalah sejenis pagar. Enam batang kayu sebesar pergelangan tangan orang tua dan delapan potongan pendek yang melintang. Sementara tarian pejuu’ lasah adalah tarian yang disertai dengan doa/mantra yang disampaikan pada Tuhan, mengelilingi lasah. Sementara tarian lalang buko, adalah tarian yang yang wajib ditarian dalam dange untuk memperingati bahwa leluhur mereka jaman dulu mampu menghidupkan orang mati oleh lalang buko, menggunakan sape’ kayaan (sape’ bersenar dua).
Prosesi misa dange sendiri, selain menggunakan bahasa Kayaan baik lagu maupun rentetanan doa dalam perayaan misa dange, juga ada syair dayung, (syair dayung lebih pada jenis syair tradisi, bukan manusia) dalam menyampaikan kesukariaan dan permohonan pada tuhan sebagai persembahan. Yang tidak kalah pentingnya dalam rangkaian prosesi misa dange adalah masuknya tarian pejuu’ lasah (tarian sekaligus penyampaian hajat/doa pada tuhan ketika persembahan dalam liturgi melalui medianya yang disebut lasah). Peralatan lasah terdiri dari
Acara Ritual Dange, Minggu Tanggal 15 Juni 2008
Acara hari Minggu ini akan dimulai pukul 08.00 – selesai. Untaian prosesi ritual dange adalah sebagai berikut:
1. Ritual ngaping langat (harafiahnya; menipas awan, namun yang dimaksud adalah marabahaya): kegiatan di lepo dange
Tujuan ritual ini adalah untuk meminta pada Tuhan agar dia mau menyingkirkan segala marabahaya bagi manusaia sekaligus mau melindungi upacara dange. Kemudian diteruskan dengan penancapan tiang lepo dange.
2. Ritual Nevaraa’ Uting dan Dayung Taharii (memberi tahu babi dan syair doa pertama): Kegiatan di rumah
Tujuan ritual ini agar babi tidak memiliki atau menyimpan rasa sakit hati pada manusia karena dia akan dibunuh untuk dijadikan kurban sembelihan dalam lepo dange. Setelah ritual ini selesai, babi bersama rombongan dayung (sembilan orang ibu-ibu), turun dari rumah menuju lepo dange.
3. Ritual Nevak uting (nyembelih babi): kegiatan di lepo dange
setelah para dayung naik lepo dange, babi diletakan ditengah lepo dan mukanya menghadap matahari terbit. Kemudaian sidayung meletakan kalung manik tua di lehernya dan menghentak-hentakkan huing (kerincing) pada badan babi tersebut sambil menyampaikan mantra. Mengatakan bahwa bersama ini pergilah kamu roh sang babi. Ketika darah babi menguyur deras dari lehernya, karena disembelih, dayung aya’ menadah da’un havaang (daun sabang) pada darah babi tersebut. Setelah itu, babi bersama tim dayung yang lain naik ke rumah. Sementara dayung aya’ dan satu orang dayung uk (dayung kecil; bukan pemeran uatam), tetap tinggal dalam lepo dange. Ketika inilah dayung melakukan mela (mengibas-ibas daun sabang sambil mengucapkan mantra), agar orang yang di-pela (asal kata dari mela), mendapat rejeki, kesehatan, umur panjang dan hal-hal yang berguna bagi yang bersangkutan dalam meniti kehidupannya. Selain itu, mela ini juga bisa berlaku untuk memberikan nama kayaan bagi anak-anak. Karena itu maka dalam dange besar/utama, juga ada sebutan dange anaak (dange yang diistimewakan bagai anak, untuk mendapat nama dalam lepo dange). Setelah dayung selesai mela dalam pondok dange, dia bersama satu temannya naik ke rumah. Kemudain turun lagi ke pondok dange.
4. Ritual Neguk Ake Tanaa’ (mengetuk-ngetuk lantai dengan dua potong bambu kecil, meminta tanah): kegiatan di lepo dange
ritual ini bertujuan untuk memintah tanah yang baik untuk lahan pertanian pada tahun berikutnya. Serentetatan ritual ini adala;
a. Maya Tivi:
Adalah sebuah mantra yang diucapakan untuk mengalahkan musuh pada saat ngayau, atau dalam perkelahian lainnya.
b. Tepujo’ Ujaan:
Adalah sebuah mantra yang meminta pada para leluhur kayaan yang satria, agar mereka mau datang kembali untuk melindungi warganya.
Setelah ritual ini selesai, rombongan dayung naik lagi ke rumah.
5. Mela arung (mela nasi): kegiatan di rumah
Ini adalah mantra/doa untuk membagi rejeki pada semua orang, terutama anak kecil. Dihadapan si-dayung, ada daun pisang, setiap lapisan daun pisang itu diselipi sejemput nasi. Dayung memegang hikap (tanggok ikan) sambil sesekali dia mengoyang tanggok itu, emngisaratkan bahwa dia sedang menanggok jiwa/roh padi.
6. Puran Bataang Bulit (mengamburkan nasi dan daun pisang); kegiatan di rumah
Setelah dayung melantunkan mantranya, anak-anak berebut daun pisang dan saling memukul daun pisang itu diantara mereka. Ini menandakan bahwa mereka sedang merebut rejeki.
7. Ngaping Langat (sda): kegiatan di Lepo dange
Dayung aya’ masuk sendiri dalam lepo dange. Diatas pondok, dia memotong dua buah tali yang digunakan untuk mengikat atap pondok yang terbuat dari kain. Tujuannya agar segala doa dan permohonannya bisa pergi naik menghadap tuhan dengan leluasa. Setelah dayung aya’ memotong tali tersebut, dia menggoyang-goyang pondok dari atas. Kemudain turun kebawah pondok. Dayung kemudian memutar dari arah sebelah kanan ke kiri, sambil menancapkan tobak yang dipengangnya disetiap tiang pondok. Setelah dayung aya’ menyelesaikan tugas itu, baru kemudian diikuti oleh tim dayung yang lainnya. Sambil menari mengelilingi pondok dengan musik gong, mereka menggoyang-goyang lepo dange. Dengan demikian, diyakini segala sesuatu yang dilakukan dan diharapkan dalam setiap prosesi dange itu, bisa diterima oleh Tuhan.
8. Nyinah (menguatkan semangat atau jiwa; Sama maksud dengan nyaru’ semangat dalam pengertian Dayak Kanayatn): kegiatan tetap di rumah
Dayung mendoakan semua orang agar tidak sesat pada jalan yang salah dalam hidupnya, dan berkumpul kembali dalam rumah. Ini difokuskan bagi semua orang yang ikut dalam upacara dange tersebut.
9. Karaang lalang buko (tarian ritual Lalang Buko);
Tarian ini ditarikan di atas memaang (sejenis gong, napun ceper). Tarian ini menginterperetasikan bahwa Lalang Buko pernah menghidupakan orang mati (mitos dayak Kayaan dalam syair tekna Lawe’).
10. Karaang Pejuu’ Lasah:
Ini puncak dari segala ritualitas dalam dange yang diadakan dalam rumah, untuk menyampaikan segala harapan dan permohonan masyarakat Kayaan pada Tuhan.
11. Dayung ulii’ (para anggota dayung masuk dalam bilik); kegiatan tetap di rumah
Para anggota dayung dari ruaang tengah masuk ke dalam amin aya’ (bilik milik hipi). Hipi (bangsawan; pemegang kekuasaan tertinggi yang mengatur segala perikehidupan dan adat istiadat serta budaya dalam suku Dayak Kayaan).
Semua prosesi ritualitas dange selesai.
Subscribe to:
Posts (Atom)







