News Update :

Tak Ada Daerah Aman Gempa di Indonesia Kecuali Kalimantan

Okezone

Kamis, 13/09/2007 16:18 WIB
Gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) kembali mengguncang Sumatera dan terasa hingga Pulau Jawa, Singapura, serta Malaysia, Gempa yang terjadi pukul 18.10 WIB kemarin memunculkan peringatan tsunami di sepanjang Pantai Barat Sumatera, meski beberapa jam kemudian dicabut, karena gelombang tinggi itu tidak terbukti. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), pusat gempa berada di Samudera Hindia, 159 km arah barat daya Bengkulu dengan kedalaman 10 km di bawah permukaan laut.

Gempa susulan dengan kekuatan besar juga terus terjadi hingga siang tadi. Sekitar pukul 06.49 WIB, gempa berkekuatan 7,7 pada SR terjadi di 140 km barat daya Sungai Penuh di Jambi. Selanjutnya, pukul 08.26 gempa dengan kekuatan sama juga terjadi dengan potensi terjadi gelombang pasang laut (tsunami). Pusat gempa terdeteksi di 1.98 LS. 99.8 BT atau 130 km Painan, Sumatera Barat.

Dari hasil analisis kami, potensi gempa susulan ini akan terus terjadi khususnya di segmen Mentawai. Di Indonesia tak ada daerah yang aman dari bencana (gempa) kecuali Kalimantan. Umumnya, daerah rawan bencana gempa dan tsunami terjadi di daerah yang tingkat populasinya padat dan hanya menunggu waktu sesuai siklus tahunan yang pernah terjadi. Yang bisa dilakukan hanya sedia payung sebelum hujan, tapi tidak bisa menghentikan.26 gempa dengan kekuatan sama juga terjadi dengan potensi terjadi gelombang pasang laut (tsunami). Pusat gempa terdeteksi di 1.98 LS. 99.8 BT atau 130 km Painan, Sumatera Barat.

Dari hasil analisis kami, potensi gempa susulan ini akan terus terjadi khususnya di segmen Mentawai. Di Indonesia tak ada daerah yang aman dari bencana (gempa) kecuali Kalimantan. Umumnya, daerah rawan bencana gempa dan tsunami terjadi di daerah yang tingkat populasinya padat dan hanya menunggu waktu sesuai siklus tahunan yang pernah terjadi. Yang bisa dilakukan hanya sedia payung sebelum hujan, tapi tidak bisa menghentikanakan alam tersebut.

Peramalan gempa bumi dan tsunami dari segi ilmu pengetahuan adalah yang paling sulit dilakukan dibandingkan dengan gunung meletur, longsoran tanah, dan banjir. Namun , dengan kajian geologi, bencana-bencana itu bukanlah hal yang tidak dapat diramalkan, walaupun waktu ketidaktentuan terjadinya bencana tersebut mempunyai derajat ketidakpastian cukup tinggi.

Penyebab utama terjadinya gempa adalah letak Indonesia yang berada di antara tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik serta berada diposisi ringoffire. Saat lempeng-lempeng ini bergerak, maka guncangan akan terjadi. Biasanya guncangan utama secara otomatis akan diikuti gempa-gempa susulan.

Dalam mengatasi gempa bumi ini, pemerintah harus menyiapkan inftrastruktur manajemen dan pendidikan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan lebih siap menghadapi bencana alam, khususnya gempa. Selain itu, pemerintah dan masyarakat harus proaktif melakukan mitigasi, pemantauan, dan pembangunan sistem peringatan dini bencana.

Catatan sejarah gempa di Mentawai menyebutkan, kepulauan ini pada tahun 1833 pernah diguncang gempa berkekuatan 9 SR. Periode pengulangan gempa di wailayah ini menurut penelitian yang dilakukan selama hampir 10 tahun lalu memiliki periode pengulangan sekitar 200 tahun.

Bila wilayah tersebut sampai terguncang gempa besar lagi, maka daerah yang akan terkena dampaknya bukan hanya Padang dan Bengkulu, tapi juga Singapura dan Jakarta, yang masing-masing berjarak lebih kurang 300 km dan 600 km dari sumber gempa itu. Dua kota besar ini daratannya terdiri atas tanah aluvial, hasil sedimentasi, dan reklamasi. Adanya gelombang besar yang merambat sampai di lapisan tanah ini dapat menjadi besar atau teramplifikasi, memberi dampak yang parah.

Bahaya tsunami juga mengancam Padang dan Bengkulu. Gempa yang berpusat di sekitar Mentawai akan menimbulkan tsunami yang bakal menerjang ibu kota Sumatera Barat itu dalam waktu 10 menit setelah gempa terjadi. Ancam,an gempa beser dan tsunami di pantai barat Sumatera ini, menurutnya, bukan hanya datang dari Pulau-pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan, tapi juga pulau lain di gugusan Kepulauan Mentawai, yaitu Pulau Sipora yang terguncang gempa tahun 1600-an dan Siberut tahun 1797.

Sejak itu, keduanya tertidur panjang meng-himpun kekuatan. Saat ini kondisi”matang” untuk sewaktu-waktu mengadakan serangan kembali. Artinya, proses pengumpulan energi di dua pulau itu sudah cukup besar yang mampu di tahan oleh struktur geologi di bawahnya. Kondisi ini di ibaratkan secara mendatar dari satu sisi. Bila dia tidak kuat lagi menekan pegas akan meregang kembali ke posisi semula.

Ketika terjadi gempa berkekuatan 7,6 pada SR di Pulau Simeleu tahun 2002, kami sebenarnya sudah mencemaskan guncangan itu akan memicu sistem kegempaan di pulau-pulau yang berada di sebelah selatannya seperti Pulau Nias yang pernah dilanda guncangan berkekuatan 8,5 SR pada tahun 1861. Hal itu disebabkan gempa Simeleu merupakan pra gempa yang akan menaikkan tekanan blok di sebelahnya. Pulau-pulau itu bekerja sama dan berbicara satu sama lain. Ketika satu blok terkena gempa ada daerah antara blok sebelahnya yang tegang atau mengalami shadow stress.

Gempa yang terjadi di Sumatera Barat kemarin itu sumbernya dekat dengan segmen Sianok. Gempa yang terjadi di patahan Sumatera tersebut sangat berpotensi terjadi tsunami. Berdasarkana catatan, di segmen tersebut pernah terjadi dua kali gempa berturut-turut pada 1926. Jarak waktunya hanya berbeda 30 menit dengan kekuatan yang jauh lebih besar, mencapai skala magnitudo 7 MW atau lebih.

Waktu itu gempa pertamanya memecahkan segmen Sumani. Namun, setengah jam kemudian gempa kedua memecahkan segmen Sianok, dari Danau Singkarak sampai Bukittinggi hingga Padang Panjang.

Dr Ir Danny Hilman Natawidjaja, Pakar Gempa Geoteknologi LIPI
Share this Article on :

0 comments:

Post a Comment

 
© Copyright Borneo Blogger Community 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.